Kamar 203 jadi saksi kami berdua berdialog, bertukar pikiran, saling bully, saling debat, saling belajar, bahkan saling xxx. Tak melulu soal cinta, malah kami jarang membicarakannya, lebih suka praktik sepertinya, uups. Kami senang membahas isu-isu terkini. Pokoknya meski kebanyakan waktuku kini jadi istri rumah tangga (semoga segera naik level jadi ibu rumah tangga, amin) komitmenku, aku musti up to date dan berwawasan. Ngaha banget :p
Dialog-dialog kami menyoal agama, ekonomi, politik dan pemerintahan, keluarga, dan rencana masa depan bersama. Aku senang suamiku adalah orang yang cerdas dan berwawasan. Brainy is really sexy. Dia semakin tampan saat menampilkan kecerdasannya. Aku beberapa kali melongo tercengang mendapati bahwa ada banyak hal yang belum ku ketahui. Kadang hal yang baru ku ketahui itu menakutkan. Entahlah, sepertinya selama ini bukannya aku tak tahu, aku hanya menolak untuk tahu. Terbaca naif, ya memang, demikianlah aku. Selama ini aku hanya ingin percaya bahwa dunia dan kehidupan ini indah, putih, dan manis. Aku lebih senang menarik hal-hal baik dan orang-orang yang menurutku baik ke dalam lingkaran kehidupanku. Aku tak mau menambah masalah.
Semakin berdialog dengan suami, aku mendapati bahwa diri ini adalah orang yang sangat egois, apatis, dan hanya mementingkan kebahagiaan dan kesuksesan sendiri. Benar-benar sosok individual. Alhamdulillah Allah menjodohkanku dengan suamiku. Aku belajar banyak. Sungguh, dia adalah orang baik yang ingin ku tiru. Dan karena dialog-dialog kami begitu seksi, sayang jika tak ku bagi. Karena itu aku sengaja membuat laman khusus "Debat Kasur".
Dialog antara aku dan suami lebih banyak terjadi di atas kasur. Saat isu diajukan, awalnya tentu aku sengaja memposisikan diri sebagai oposisi. Karena itu bila kau tetangga kamar kami, dialog yang kami lakukan bisa terdengar sebagai debat. Tapi aku jamin itu bukan debat kusir, tapi debat kasur. Hanya pikiran kami yang memanas, hati tidak. Toh seringkali kami melakukannya sambil berpelukan. Aku masih membawa gaya reporterku, tak jarang aku sengaja mengintimidasi, hahaha. Maafkan aku sayang. Kau benar-benar tampan saat berargumen. Aku hanya ketagihan menyelami dalamnya pikiranmu.
Jadi, apa topik debat kasur kita malam ini?
Bali, 7 Februari 2017
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Februari 2017
Sabtu, 04 Februari 2017
"Suami, Pergilah Bersama Teman-temanmu! Bahagiakan dan Mudakan Dirimu!"
Kalau tulisan Bapaknya Jiwo yang viral itu adalah mengizinkan istrinya untuk 'cuti' dan berlibur dari rutinitas peran istri dan ibu, aku tak mau kalah: menyetujui suami menggunakan waktu off nya untuk dihabiskan bersama teman-temannya. Oiya, aku sudah punya suami lho sekarang (#bangga). Nanti-nanti ku ceritakan insyaallah. Karena sudah menyetujui begini nanti akan ada media yang nyebut aku istri idaman macam Bapaknya Jiwo yang jadi suami idaman gak ya? (Hehe, ngarep yang kebangetan ini)
Meski berat hati karena setelah menikah aku yang memonopoli waktu off suami, aku rapopo. Bukankah dengan begitu aku jadi punya waktu untuk menulis lagi setelah blog ini hiatus tak terurus bertahun-tahun? Selain itu, aku jadi bisa melakukan me time: nonton, layah-leyeh, dan ngeluyur ke tempat yang aku ingin datangi sendiri. Tentu tak lupa dengan izin dan laporan ke suami.
Aku sadar bahwa sebelum ada aku di kehidupan suami, pacar suami selain mama ya teman-temannya. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan suami. Mereka menemani, melindungi, membantu dan mendukung suami selama ini dan akan demikian seterusnya. Sementara aku, bisa dibilang adalah new comer yang tiba-tiba menyita mayoritas pikiran, hati, dan waktunya. Rasanya aku tak punya hak untuk melarang-larang suami berkegiatan bersama teman-temannya. Jadi, ku biarkan saja suami pergi. Biar tetap laki dan muda. Kalau kata suami sih biar aku tahu betapa ngangeninnya suamiku itu. Percaya diri sekali dia, tapi memang benar demikian adanya. Kan setiap ditinggal kerja juga aku sudah dan selalu kangen.
Suami gemar menceritakan teman-temannya kepadaku. Jadi aku tahu hampir semua teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan dan sejauh apa kedekatan mereka. Kalau pun aku belum bertemu langsung, minimal aku sudah pernah mendengar ceritanya atau sekedar melihat fotonya. Jadi, AMAN.
Untuk suamiku,
Sayang, pergilah bersama teman-temanmu!
Bahagiakan dan mudakan dirimu!
Tak usah kau risau tentang aku, aku rumahmu, tempat kembalimu,
Sayang, pergilah jelajahi dunia!
Bersama teman, nikmatilah senja,
Berlarilah di antara pasir dan ombak, lalu berenanglah bersama damai,
Sayang, pergilah kemana ilmu berkumpul!
Perluas wawasan dan kebijaksanaan,
Lalu segera pulang, temui aku yang sudah merinduimu.
Salam kangen dari istrimu, mmmuach!
Bali, 4 Februari 2017
Meski berat hati karena setelah menikah aku yang memonopoli waktu off suami, aku rapopo. Bukankah dengan begitu aku jadi punya waktu untuk menulis lagi setelah blog ini hiatus tak terurus bertahun-tahun? Selain itu, aku jadi bisa melakukan me time: nonton, layah-leyeh, dan ngeluyur ke tempat yang aku ingin datangi sendiri. Tentu tak lupa dengan izin dan laporan ke suami.
Aku sadar bahwa sebelum ada aku di kehidupan suami, pacar suami selain mama ya teman-temannya. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan suami. Mereka menemani, melindungi, membantu dan mendukung suami selama ini dan akan demikian seterusnya. Sementara aku, bisa dibilang adalah new comer yang tiba-tiba menyita mayoritas pikiran, hati, dan waktunya. Rasanya aku tak punya hak untuk melarang-larang suami berkegiatan bersama teman-temannya. Jadi, ku biarkan saja suami pergi. Biar tetap laki dan muda. Kalau kata suami sih biar aku tahu betapa ngangeninnya suamiku itu. Percaya diri sekali dia, tapi memang benar demikian adanya. Kan setiap ditinggal kerja juga aku sudah dan selalu kangen.
Suami gemar menceritakan teman-temannya kepadaku. Jadi aku tahu hampir semua teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan dan sejauh apa kedekatan mereka. Kalau pun aku belum bertemu langsung, minimal aku sudah pernah mendengar ceritanya atau sekedar melihat fotonya. Jadi, AMAN.
Untuk suamiku,
Sayang, pergilah bersama teman-temanmu!
Bahagiakan dan mudakan dirimu!
Tak usah kau risau tentang aku, aku rumahmu, tempat kembalimu,
Sayang, pergilah jelajahi dunia!
Bersama teman, nikmatilah senja,
Berlarilah di antara pasir dan ombak, lalu berenanglah bersama damai,
Sayang, pergilah kemana ilmu berkumpul!
Perluas wawasan dan kebijaksanaan,
Lalu segera pulang, temui aku yang sudah merinduimu.
Salam kangen dari istrimu, mmmuach!
Bali, 4 Februari 2017
Kamis, 20 November 2014
Wanita, Pahamilah Ini....

~Sebuah Ringkasan dari Salim A Fillah~
Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Keenam
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu? Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu? Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
"Tanyakan pada hatimu: Mana di antara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga."
Senin, 21 Juli 2014
BALADA PRIA DAN -AN
Ada seorang pria yang menganggap dirinya tampan, mapan, dan pastinya jadi rebutan.
Hingga akhirnya dia kewalahan, mencari yang paling relevan.
Bukan lagi cinta dan iman yang jadi pertimbangan, melainkan kesesuaian.
Saking banyaknya perawan yang menawan, si pria pun makin dilanda kegalauan.
Lalu dijajarkan semua perawan untuk diperbandingkan.
Siapa tahu ada yang mendekati kesempurnaan.
Lamat-lamat si pria memperhatikan, menimbang-nimbang, berharap mendapat keputusan.
Lama si pria kepikiran, tak juga dapatkan jawaban.
Sampai tahunan, si pria masih dibayangi keraguan.
Dan para perawan satu per satu mendapat pinangan.
Ada seorang pria yang menganggap dirinya tampan, mapan, dan pastinya jadi rebutan.
Namun di usianya yang kian matang ia justru masih sendirian.
Minggu, 20 Juli 2014
Potongan Pertama
Ini ceritaku.
Seorang gadis umur 23 tahun yang tak pernah memiliki pacar. Tentu saja aku
punya seseorang yang ku suka. Dia adalah pria paling tampan.
Kami seolah punya
radar. Aku selalu bisa menemukannya ketika aku benar-benar menginginkannya. Aku
tak benar-benar mengenalnya. Berbicara dengannya pun tidak. Aku hanya sekali
melihatnya dan langsung jatuh cinta. Mungkin ini yang disebut sebagai jatuh cinta
pada pandangan pertama. Ah, betapa konyolnya.
Apakah kau pernah
merasa lututmu lemas dan hatimu bergetar? Aku selalu merasakan itu semua saat
melihatnya.
Selasa, 15 Juli 2014
Pangeran Berkuda Putih
Saat kecil saya selalu disuguhi tontonan dongeng-dongeng kerajaan macam cinderela, putri salju, sleeping beauty, beauty and the beast, dsb. Ternyata hal ini cukup mempengaruhi selera saya dalam hal ketertarikan terhadap pria. Pria-pria model pangeran yang gagah, pinter, dan tinggi selalu menjadi favorit saya. Sampai-sampai setiap ditanya dengan siapa saya ingin menikah, saya selalu menjawab "Pangeran Berkuda Putih".
Selain itu hampir disetiap telenovela, sinetron, drama Taiwan, Jepang, dan Korea yang saya tonton selalu menghadirkan peran utama pria model-model pangeran. Biasanya saya kurang tertarik untuk menonton jika pemeran utama prianya tidak cukup menarik perhatian. Kecuali jika track record sutradara atau pemain utama wanitanya saya suka dan ceritanya yang recomended.
Harapan saya akan sosok pangeran berkuda putih ini semakin menjadi-jadi setelah saya menonton sebuah FTV. Ceritanya tentang gadis tomboy yang mendambakan sosok pangeran berkuda putih. Wah saya banget tuh!
Saya sedikit lupa, sepertinya karena perjodohan keluarga maka si gadis tomboy ini harus menikah. Sontak si gadis menolak sampai kabur-kaburan. Apalagi calon mempelai pria terkesan seperti anak mamih, jauh dari tipe idamannya selama ini. Singkat cerita, kesaaran dan ketulusan si pria berhasil membuat luluh hati si gadis. Mereka pun akhirnya sepakat menikah. Pada hari pernikahan, si gadis dirias menjadi begitu cantik dan nampak anggun bak puteri kerajaan. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata mempelai pria tak kunjung datang. Si gadis dan keluarga panik. Di pikir oleh si gadis bahwa si pria sedang membalas dendam akibat ulahnya selama ini. Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Mempelai pria bak pangeran datang menunggangi kuda putih.
Bikin mupeng kan? Iya banget.
Oke, balik ke pengaruh dongeng dengan selera saya terhadap pria. Semakin bertambah buku yang saya baca, semakin bertambah orang yang saya temui, semakin bertambah cerita yang saya dengar, semakin bertambah film yang saya tonton, selera ketertarikan saya terhadap pria berubah. Saya tak lagi mendambakan pangeran berkuda putih. Mengingat saya sendiri juga bukan seorang puteri. Yang saya inginkan tak banyak. Saya hanya menginginkan teman hidup untuk berbagi dalam suka dan duka sekaligus nahkoda yang akan membimbingku mengarungi luasnya samudera kehidupan menuju keridhaanNya. Itu saja.
Sebuah pembelajaran yang saya peroleh dari apa yang saya alami dan rasakan. Menurut saya hal ini cukup penting bagi orang tua dan calon orang tua.
Yuk, lebih biasakan anak-anak kita dengan sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah dibanding dengan dengan dongeng-dongeng yang menyesatkan. Hehe
Selain itu hampir disetiap telenovela, sinetron, drama Taiwan, Jepang, dan Korea yang saya tonton selalu menghadirkan peran utama pria model-model pangeran. Biasanya saya kurang tertarik untuk menonton jika pemeran utama prianya tidak cukup menarik perhatian. Kecuali jika track record sutradara atau pemain utama wanitanya saya suka dan ceritanya yang recomended.
Harapan saya akan sosok pangeran berkuda putih ini semakin menjadi-jadi setelah saya menonton sebuah FTV. Ceritanya tentang gadis tomboy yang mendambakan sosok pangeran berkuda putih. Wah saya banget tuh!
Saya sedikit lupa, sepertinya karena perjodohan keluarga maka si gadis tomboy ini harus menikah. Sontak si gadis menolak sampai kabur-kaburan. Apalagi calon mempelai pria terkesan seperti anak mamih, jauh dari tipe idamannya selama ini. Singkat cerita, kesaaran dan ketulusan si pria berhasil membuat luluh hati si gadis. Mereka pun akhirnya sepakat menikah. Pada hari pernikahan, si gadis dirias menjadi begitu cantik dan nampak anggun bak puteri kerajaan. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata mempelai pria tak kunjung datang. Si gadis dan keluarga panik. Di pikir oleh si gadis bahwa si pria sedang membalas dendam akibat ulahnya selama ini. Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Mempelai pria bak pangeran datang menunggangi kuda putih.
Bikin mupeng kan? Iya banget.
Oke, balik ke pengaruh dongeng dengan selera saya terhadap pria. Semakin bertambah buku yang saya baca, semakin bertambah orang yang saya temui, semakin bertambah cerita yang saya dengar, semakin bertambah film yang saya tonton, selera ketertarikan saya terhadap pria berubah. Saya tak lagi mendambakan pangeran berkuda putih. Mengingat saya sendiri juga bukan seorang puteri. Yang saya inginkan tak banyak. Saya hanya menginginkan teman hidup untuk berbagi dalam suka dan duka sekaligus nahkoda yang akan membimbingku mengarungi luasnya samudera kehidupan menuju keridhaanNya. Itu saja.
Sebuah pembelajaran yang saya peroleh dari apa yang saya alami dan rasakan. Menurut saya hal ini cukup penting bagi orang tua dan calon orang tua.
Yuk, lebih biasakan anak-anak kita dengan sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah dibanding dengan dengan dongeng-dongeng yang menyesatkan. Hehe
Bogor, Tempat Sejuta Kenangan
Bogor, tempat sejuta kenangan...
Masih ingat betul sewaktu pertama kali aku menginjakkan kaki di Bogor.
Waktu itu mama dan lilik yang mengantarku.
Baru sampai di Baranangsiang kami langsung disambut hujan.
Keberadaan mama benar-benar menghangatkan disela-sela kecemasan karena menginjakkan kaki berjuang di tempat baru.Beruntung aku tak benar-benar sendiri.
Ada keluarga baru, keluarga keduaku, UDHINERS 47 dan KELUARGA BESAR ETOS BOGOR.
Syukur tak henti-hentinya karena aku memiliki mereka.
Ah, rasanya semua itu baru kemarin sore.
Nyatanya empat tahun telah berlalu.
Bogor seolah menjadi oase ditengah gersangnya hati, menyapu segala duka dengan kesejukan.
Bogor, tempat sejuta kenangan...
tempat yang indah menimba ilmu,
tempat yang damai untuk menjalin ukhuwah,
tempat yang asyik membangun pengalaman,
tempat yang ... untuk menyusun mozaik hidupku menjadi lebih tertata dan bersinar.
Rasanya sayang harus pindah dari Bogor.
Bogor selalu membuatku rindu.
Perjalanan ke Bogor selalu membuatku bersemangat, dag dig dug seperti mau bertemu pujaan hati.
Di Bogor pulalah kepasrahan dan ketulusan aku pelajari.
Berkunjung ke bogor bak obat mujarab penghilang stress dan kefuturan.
Bogor benar-benar 'sesuatu'
Masih ingat betul sewaktu pertama kali aku menginjakkan kaki di Bogor.
Waktu itu mama dan lilik yang mengantarku.
Baru sampai di Baranangsiang kami langsung disambut hujan.
Keberadaan mama benar-benar menghangatkan disela-sela kecemasan karena menginjakkan kaki berjuang di tempat baru.Beruntung aku tak benar-benar sendiri.
Ada keluarga baru, keluarga keduaku, UDHINERS 47 dan KELUARGA BESAR ETOS BOGOR.
Syukur tak henti-hentinya karena aku memiliki mereka.
Ah, rasanya semua itu baru kemarin sore.
Nyatanya empat tahun telah berlalu.
Bogor seolah menjadi oase ditengah gersangnya hati, menyapu segala duka dengan kesejukan.
Bogor, tempat sejuta kenangan...
tempat yang indah menimba ilmu,
tempat yang damai untuk menjalin ukhuwah,
tempat yang asyik membangun pengalaman,
tempat yang ... untuk menyusun mozaik hidupku menjadi lebih tertata dan bersinar.
Rasanya sayang harus pindah dari Bogor.
Bogor selalu membuatku rindu.
Perjalanan ke Bogor selalu membuatku bersemangat, dag dig dug seperti mau bertemu pujaan hati.
Di Bogor pulalah kepasrahan dan ketulusan aku pelajari.
Berkunjung ke bogor bak obat mujarab penghilang stress dan kefuturan.
Bogor benar-benar 'sesuatu'
Kondektur Ber-HighHeels
Pernah lihat kondektur metro mini pake high heels?
Aku pernah, baru saja kualami. Seorang ibu-ibu, mungkin usia 50 tahunan. Busana, hijab dan aksesoris yang ia kenakan cukup stylish. Awalnya kupikir si ibu stylish ini adalah ibu yang baik hati dan sukarela membantu si supir, mengingat si supir tak punya kondektur.
Namun, saat ada penumpang yang akan berhenti, si ibu stylish tersebut berteriak sambil mengetuk langit-langit metro mini, "BERHENTI, YAH!"
Oalah, ternyata si ibu stylish tersebut adalah benar kondektur dan istri si supir.Si supir juga nampak stylish. Rambutnya semi merah ketika butiran cahaya menyorot kepalanya.
Dalam cerita versiku, ini tanpa aku melakukan klarifikasi, mereka adalah OSB aka "Orang Sederhana Baru". Mereka akhirnya memutuskan untuk membeli metro mini dari harta benda yang tersisa akibat bisnis mereka yang down. Si istri dengan setia menemani suami, meski harus menjadi kondektur. Romantisnya....
Sebenarnya pengen mendokumentasikan pasangan tsb dalam foto, apa daya di metro mini tsb aku sempat kehilangan tab. Lagi pula kurang sopan rasanya. Cukuplah kisahnya saja yang aku bagikan.
*yang menganggu pikiranku, kenapa tuh ibu maksa banget pake high heel. Kan menyusahkan diri sendiri. Meski begitu, tetap saluut!
Aku pernah, baru saja kualami. Seorang ibu-ibu, mungkin usia 50 tahunan. Busana, hijab dan aksesoris yang ia kenakan cukup stylish. Awalnya kupikir si ibu stylish ini adalah ibu yang baik hati dan sukarela membantu si supir, mengingat si supir tak punya kondektur.
Namun, saat ada penumpang yang akan berhenti, si ibu stylish tersebut berteriak sambil mengetuk langit-langit metro mini, "BERHENTI, YAH!"
Oalah, ternyata si ibu stylish tersebut adalah benar kondektur dan istri si supir.Si supir juga nampak stylish. Rambutnya semi merah ketika butiran cahaya menyorot kepalanya.
Dalam cerita versiku, ini tanpa aku melakukan klarifikasi, mereka adalah OSB aka "Orang Sederhana Baru". Mereka akhirnya memutuskan untuk membeli metro mini dari harta benda yang tersisa akibat bisnis mereka yang down. Si istri dengan setia menemani suami, meski harus menjadi kondektur. Romantisnya....
Sebenarnya pengen mendokumentasikan pasangan tsb dalam foto, apa daya di metro mini tsb aku sempat kehilangan tab. Lagi pula kurang sopan rasanya. Cukuplah kisahnya saja yang aku bagikan.
*yang menganggu pikiranku, kenapa tuh ibu maksa banget pake high heel. Kan menyusahkan diri sendiri. Meski begitu, tetap saluut!
Label:
cinta,
emansipasi,
high heels,
hijab,
kondektur,
metromini,
romantis
Menunggu di Pasar
Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara fals pengamen terdengar diiringi petikan gitar ala kadarnya
menyanyi sebisanya demi recehan
kulihat perempuan kecil berbaju merah bersusah payah menggandeng tangan ayahnya
pasangan muda-mudi tak tahu malu menampakkan mesra
serasa dunia milik berdua
gelora pasangan senja tak mau kalah
berlenggak bersama
Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara penyanyi goyang dari kaset bajakan mengeras
menjadi latar adegan selanjutnya
beberapa bocah lelaki terdiam, terpaku pada penyanyi goyang
seorang wanita agak gempal menawar baju sejadi-jadinya
sang abang penjual yang tak lebih galak menggeleng pelan dengan muka kecut
Di sisi lain, lelaki pedagang gantungan jilbab berlalu lalang sepi pembeli
rautnya hampir menyerah, tapi ia tak mau kalah
Di dekatku, lelaki penjual ikan bandeng jongkok memandang dagangannya yang belum berkurang
Tiba-tiba perempuan muda menghampirinya,
membuatnya kembali bergairah
Aku terpejam, hening
lama terpejam,
kali ini tak ingin lekas membuka mata
merasa dongkol
masih terpejam,
badanku terasa pegal akibat berdiri lama
masih terpejam,
aku merentangkan tangan
meregangkan sendi-sendi yang kaku
masih terpejam,
tanganku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat
aku ingin segera membuka mata,
namun benda lembut dan hangat itu sekejap berpindah
menghalangiku membuka mata
aku semakin penasaran
aku berbalik
"sudah lama menunggu?"
senyum polosnya membuat
rasa dongkolku hilang, aku justru tersenyum dan segera menggandengnya, pulang...
perlahan aku membuka mata
suara fals pengamen terdengar diiringi petikan gitar ala kadarnya
kulihat perempuan kecil berbaju merah bersusah payah menggandeng tangan ayahnya
pasangan muda-mudi tak tahu malu menampakkan mesra
serasa dunia milik berdua
gelora pasangan senja tak mau kalah
berlenggak bersama
Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara penyanyi goyang dari kaset bajakan mengeras
menjadi latar adegan selanjutnya
beberapa bocah lelaki terdiam, terpaku pada penyanyi goyang
seorang wanita agak gempal menawar baju sejadi-jadinya
sang abang penjual yang tak lebih galak menggeleng pelan dengan muka kecut
Di sisi lain, lelaki pedagang gantungan jilbab berlalu lalang sepi pembeli
rautnya hampir menyerah, tapi ia tak mau kalah
Di dekatku, lelaki penjual ikan bandeng jongkok memandang dagangannya yang belum berkurang
Tiba-tiba perempuan muda menghampirinya,
membuatnya kembali bergairah
Aku terpejam, hening
lama terpejam,
kali ini tak ingin lekas membuka mata
merasa dongkol
masih terpejam,
badanku terasa pegal akibat berdiri lama
masih terpejam,
aku merentangkan tangan
meregangkan sendi-sendi yang kaku
masih terpejam,
tanganku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat
aku ingin segera membuka mata,
namun benda lembut dan hangat itu sekejap berpindah
menghalangiku membuka mata
aku semakin penasaran
aku berbalik
"sudah lama menunggu?"
senyum polosnya membuat
rasa dongkolku hilang, aku justru tersenyum dan segera menggandengnya, pulang...
Minggu, 29 Desember 2013
Chemistry
Seorang teman bicara cukup kasar ketika menyaksikan idolanya menikah dengan perempuan yang 'dari kacamatanya' kurang cantik. Menurutnya perempuan itu tidak pantas bersanding dengan sang idola.
Entah bagaimana meski telah memiliki dua buah hati bersama Putri Diana, Pangeran Charles tak bisa melupakan Camila. Camila yang lebih tua dari Diana dan di mata publik tak lebih cantik dan tak lebih baik dari Diana, nyatanya tetap menjadi dambaan Charles, terlepas pada akhirnya Charles dan Camila bercerai. Lihat saja pernikahan Charles dan Camila. Senyum senantiasa mengembang di wajah Charles yang tak lagi muda.
Kakak perempuanku bercerita tentang teman SMAnya, yang menurutnya tak begitu cantik. Kulit kurang cerah, hidung tidak mancung, dan tubuh agak berisi. Teman SMAnya tersebut bekerja pada sebuah perusahaan dimana mayoritas pegawainya adalah laki-laki. Karena minimnya kaum hawa di perusahan tersebut teman SMA kakakku itu begitu populer. Saking populer, dia diperebutkan oleh tiga pria sekaligus. Tentu saja si wanita memilih yang terbaik menurut versinya. Resepsi pernikahan pun digelar. Kakakku bercerita kalau temannya itu sempat minder, lantaran ibu mertuanya jauh lebih cantik dari mempelai wanita.

Mungkin dari kita pernah terheran-heran ketika menyaksikan wanita yang menurut kita sangat cantik menikah dengan pria yang menurut kita biasa saja, atau sebaliknya. Lalu kemudian kita sepakat bahwa kecantikan/ketampanan adalah penilaian yang subjektik (relatif bagi setiap orang). Dan alasan menikah pun menjadi beraneka macam. Lalu, untuk alasan seperti apa sebenarnya kita sebaiknya menikah?
Selama hidupku, aku telah bertemu banyak orang. Tak terhitung berapa jumlahnya. Ada yang sekadar bertemu, ada yang berinteraksi hanya beberapa menit, jam, hari, dan ada yang menghabiskan bertahun-tahun waktu bersama. Aku percaya bahwa di setiap pertemuan, selalu ada alasan. Bukankah semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh-Nya?
Aku telah menonton banyak film dan drama. Dari berbagai genre dan negara. Dari beragam kisah yang tersaji, selalu ada kisah cinta dengan porsi yang berbeda-beda. Meskipun berasal genre, negara, dan jalan cerita yang berbeda, film-film dan drama-drama tersebut memberikan makna cinta yang tak jauh berbeda. Bahwa cinta adalah sesuatu yang sakral dan agung.
Tak sulit bagi seseorang untuk jatuh cinta. Namun, setelah cinta itu berkurang perpisahan pun tak terelakan. Bahkan hal ini berlaku bagi mereka yang telah menikah. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu? Begitupun seeorang hamba yang memeluk suatu agama, yang telah bersumpah bahwa ia mencintai Tuhannya pun tak luput dari penghianatan. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu?
Diantara banyak film dan drama yang telah aku tonton, ada sebuah drama yang memberitahuku bahwa selain cinta kita tak boleh melupakan chemistry. Chemistry adalah ketika kita merasa 'klik' dengan seseorang, tak harus kekasih. Perasaan klik adalah misteri hati. Hanya orang yang merasakan yang tahu apakah kita merasa 'klik' atau tidak.
Karena itu, mungkin ketiga kisah di awal tulisan ini berkaitan dengan masalah chemistry. Bahwa kita tidak bisa memilih atau ditentukan oleh orang lain dengan siapa kita akan memiliki perasaan 'klik' bernama chemistry. Tentunya akan menjadi hal yang membahagiakan jika kita memilki perasaan ini dengan pasangan hidup kita. Karena bagaimana pun kita akan menghabiskan sisa umur kita dengannya. Meski begitu, aku percaya bahwa chemistry adalah sesuatu yang bisa kita bangun, asal ada niat tulus dari pelakonnya.
Entah bagaimana meski telah memiliki dua buah hati bersama Putri Diana, Pangeran Charles tak bisa melupakan Camila. Camila yang lebih tua dari Diana dan di mata publik tak lebih cantik dan tak lebih baik dari Diana, nyatanya tetap menjadi dambaan Charles, terlepas pada akhirnya Charles dan Camila bercerai. Lihat saja pernikahan Charles dan Camila. Senyum senantiasa mengembang di wajah Charles yang tak lagi muda.
Kakak perempuanku bercerita tentang teman SMAnya, yang menurutnya tak begitu cantik. Kulit kurang cerah, hidung tidak mancung, dan tubuh agak berisi. Teman SMAnya tersebut bekerja pada sebuah perusahaan dimana mayoritas pegawainya adalah laki-laki. Karena minimnya kaum hawa di perusahan tersebut teman SMA kakakku itu begitu populer. Saking populer, dia diperebutkan oleh tiga pria sekaligus. Tentu saja si wanita memilih yang terbaik menurut versinya. Resepsi pernikahan pun digelar. Kakakku bercerita kalau temannya itu sempat minder, lantaran ibu mertuanya jauh lebih cantik dari mempelai wanita.

Mungkin dari kita pernah terheran-heran ketika menyaksikan wanita yang menurut kita sangat cantik menikah dengan pria yang menurut kita biasa saja, atau sebaliknya. Lalu kemudian kita sepakat bahwa kecantikan/ketampanan adalah penilaian yang subjektik (relatif bagi setiap orang). Dan alasan menikah pun menjadi beraneka macam. Lalu, untuk alasan seperti apa sebenarnya kita sebaiknya menikah?
Selama hidupku, aku telah bertemu banyak orang. Tak terhitung berapa jumlahnya. Ada yang sekadar bertemu, ada yang berinteraksi hanya beberapa menit, jam, hari, dan ada yang menghabiskan bertahun-tahun waktu bersama. Aku percaya bahwa di setiap pertemuan, selalu ada alasan. Bukankah semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh-Nya?
Aku telah menonton banyak film dan drama. Dari berbagai genre dan negara. Dari beragam kisah yang tersaji, selalu ada kisah cinta dengan porsi yang berbeda-beda. Meskipun berasal genre, negara, dan jalan cerita yang berbeda, film-film dan drama-drama tersebut memberikan makna cinta yang tak jauh berbeda. Bahwa cinta adalah sesuatu yang sakral dan agung.
Tak sulit bagi seseorang untuk jatuh cinta. Namun, setelah cinta itu berkurang perpisahan pun tak terelakan. Bahkan hal ini berlaku bagi mereka yang telah menikah. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu? Begitupun seeorang hamba yang memeluk suatu agama, yang telah bersumpah bahwa ia mencintai Tuhannya pun tak luput dari penghianatan. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu?
Diantara banyak film dan drama yang telah aku tonton, ada sebuah drama yang memberitahuku bahwa selain cinta kita tak boleh melupakan chemistry. Chemistry adalah ketika kita merasa 'klik' dengan seseorang, tak harus kekasih. Perasaan klik adalah misteri hati. Hanya orang yang merasakan yang tahu apakah kita merasa 'klik' atau tidak.
Karena itu, mungkin ketiga kisah di awal tulisan ini berkaitan dengan masalah chemistry. Bahwa kita tidak bisa memilih atau ditentukan oleh orang lain dengan siapa kita akan memiliki perasaan 'klik' bernama chemistry. Tentunya akan menjadi hal yang membahagiakan jika kita memilki perasaan ini dengan pasangan hidup kita. Karena bagaimana pun kita akan menghabiskan sisa umur kita dengannya. Meski begitu, aku percaya bahwa chemistry adalah sesuatu yang bisa kita bangun, asal ada niat tulus dari pelakonnya.
Rabu, 10 Juli 2013
Karena Aku ya Diriku!
Namaku Efi Riana, tapi orang lebih suka memanggilku
dengan ‘Teppy’. Sebuah panggilan sayang yang disematkan Ibu ini seolah menjadi
identitas baru. Kadang aku berkelakar dengan teman yang memanggilku ‘Teppy’
bahwa Efi Riana iri karena Teppy lebih terkenal. Aku dilahirkan pada 27
Desember di Banyumas, sebuah kabupaten besar dengan 27 kecamatan yang
terletak di Propinsi Jawa Tengah. Ayahku bernama Kiswanto, sedangkan Ibuku
bernama Poniyem.
Meskipun kedua orangtuaku tidak menamatkan sekolah
hingga SD, Alhamdulillah memiliki empat puteri yang dikenal berotak cukup encer
oleh sebayanya. Ketiga saudara perempuanku berturut-turut adalah Soimah,
Sulastri, dan Ani Kistiyani. Aku ada di posisi ketiga di antara Mbak Sulastri
dan Ani. Kami berenam (sebelum kedua kakakku berkeluarga) menempati sebuah
kediaman sederhana di Desa Tunjung No. 51 RT 03 / RW 01, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, Kode Pos 53174. Setelah kedua kakakku menikah, kami tinggal
berempat. Lalu setelah aku harus melanjutkan studi, anggota keluarga yang
tinggal di rumah kembali berenam. Karena sejak kematian suami kakakku yang
kedua, dia beserta kedua puteranya kembali tinggal di kediaman orang tua.
Sejak kecil aku suka bertualang. Aku suka mencoba menemukan
jalanku sendiri. Mungkin karena kebiasan itulah, aku tumbuh menjadi seorang
yang cukup berani dan selalu berusaha untuk bisa hidup mandiri. Dari Taman
Kanak-Kanak hingga SMA kelas 10, aku selalu menjadi peringkat pertama di kelas.
Setelah itu peringkatku berganti dari 3, 2, dan 1. Bukan karena aku malas
belajar, tapi karena aku mulai mengalami disorientasi. Bukan lagi nilai yang ku
kejar, tapi prestasi lain berupa penghargaan dan pengalaman hidup.
Aku cukup lama berkecimpung di dunia pramuka. Pertama
kali terlibat saat SD kelas 3. Waktu itu aku mengikuti pesta siaga di
kabupaten. Setelah itu berlanjut ke lomba pramuka penggalang, sampai saat SMP
aku bersama tim menorehkan prestasi yang cukup luar biasa. Aku dan tim menjadi Juara
I Pramuka Penggalang se-Banyumas
dan Juara
I Gelar Ketrampilan Pramuka se-Jateng.
Selain pramuka aku juga sangat menyukai Matematika.
Sejak SD hingga SMA aku mengikuti berbagai lomba Matematika. Prestasi
terbesarku aku menjadi Finalis Olimpiade Matematika
se-Indonesia saat SMP.
Orientasiku berubah saat masuk SMA. Aku masih menyukai Matematika dan tergabung
di OSIS, tapi aku beralih dari pramuka ke Palang Merah Remaja (PMR), tepatnya
menjadi wakil ketua. Sebenarnya saat SMP aku sudah bergabung di PMR, tapi pasif
karena lebih fokus di pramuka dan OSIS. PMR ku pilih sebagai batu loncatan
meraih cita-cita yang sempat ku genggam sejak kecil, menjadi seorang dokter.
Hasilnya cukup membanggakan aku menjadi Peserta Konferensi Palang Merah Remaja
I Propinsi Jawa Tengah. Lalu aku menjadi tim Penyusun/Kontributor Buku PMR dan
Relawan di PMI Pusat dan aku menjadi Duta Forum Palang Merah Remaja Indonesia
(Forpis) Kabupaten Banyumas dan Provinsi Jateng.
Mimpiku
menjadi dokter pupus bahkan mimpi untuk kuliah perlahan sempat ku padamkan.
Selama SMA aku mendapat 2 beasiswa, sehingga tak banyak menyulitkan orang tua.
Karena itu aku tak tega meminta dikuliahkan. Setelah bekerja selama hampir
setahun di Bekasi, aku mendaftarkan diri di beberapa universitas. Geloraku
menjadi dokter masih terasa, tapi pupus setelah mengetahui bahwa beasiswa yang
ku lamar tak menyediakan jurusan kedokteran untuk universitas-universitas di
daerah barat (Jakarta dan Jawa Barat). Berbekal kecintaan terhadap Matematika,
aku mendaftar jurusan Statistika IPB.
Bidang non akademik yang ku jalani pun berubah, tak
lagi pramuka ataupun PMR. Aku beralih ke bidang jurnalistik, sebagai reporter
Koran Kampus IPB. Sebagai seorang reporter, aku berkeampatan untuk menghadiri
beberapa acara dan orang-orang penting. Dan kini, aku menjabat sebagai Pimpinan
Litbang. Aku juga sedang merintis CIDES Bogor dan menjadi Project Officer Rumah
Kumbara. Aku juga tercatat sebagi anggota Forum lingkar Pena Bogor dan IPB
Youth Journalist bidang film dokumenter. Aku sempat menjadi HRD dan Quality
Product sebuah bimbingan belajar dan menjadi Ketua Divisi Pendidikan SDP
Galuga, Beastudi Etos Bogor. Beberapa kepanitian Beastudi Etos Bogor ku jalani
sebagai tanda terima kasih. Seringkali aku ditempatkan di divisi Desain,
Dekorasi, dan Dokumentasi.
Meski menjadi dosen adalah cita-cita pilihan terakhir,
aku menyukai diriku saat mengajar. Aku senang saat berbicara di depan banyak
orang, memotivasi, berbagi pengalaman dan ilmu. Selain mengajar untuk bimbingan
belajar, aku juga terdaftar sebagai asisten praktikum untuk dua mata kuliah
yaitu Metode Penarikan Contoh dan Sosiologi Umum.
Selama kuliah, prestasi di bidang perlombaan/kejuaraan
mungkin tak banyak yang bisa kuraih. Namun aku selalu bersyukur bisa meraihnya.
Aku meraih Juara III Mahasiswa Prestasi Asrama TPB, Juara III Lomba Kerja Tulis
Ilmiah se-Bogor, Juara I Lomba Debat Kandungan al Quran se-IPB, dan Juara III
Lomba Baca Puisi SPIRIT FMIPA IPB. Selain itu, aku pernah dua kali diundang
untuk tampil di sebuah acara: memotivasi dan membacakan sebuah puisi.
Aku suka mempelajari banyak hal. Aku suka membaca buku
terutama buku inspiratif. Aku senang melibatkan diri di bidang politik (meski
sangat tak suka politik), sejarah, dan misteri. Aku masih berambisi menjadi dokter dan sutradara. Aku suka mendengarkan musik
sesuai mood. Aku suka berlari, meski hanya kulakukan seminggu sekali. Aku suka
menonton film, bukan masalah siapa aktornya melainkan bagaimana suatu saat
nanti aku bisa membuat film yang berkualitas. Aku sangat betah berlama-lama di
depan Asusku. Bergumul dengannya membantuku menikmati hidup. Bagiku prestasi
bukan hanya seberapa banyak piala, medali, atau sertifikat yang kita peroleh,
melainkan seberapa besar manfaat dari keberadaan kita dapat dirasakan oleh
orang lain. Aku, kau, dan dia pasti punya pandangan sendiri mengenai hidup dan
prestasi. Inilah aku, diriku, kehidupanku, pemikiranku. Karena aku ya diriku!
Kamis, 21 Maret 2013
Berlarilah Sekuat Kau Mampu
Saya akan berbagi salah satu rutinitas saya. Sebagai penerima Beastudi Etos saya berhak dan wajib mengikuti seluruh pembinaan yang sudah disusun oleh para pendamping (semacam supervisor). Pembinaan-pembinaan tersebut disesuaikan dengan kurikulum dan visi misi Beastudi Etos. Salah satu bentuk pembinaanya adalah olahraga yang diimplementasikan dengan lari mengelilingi lapangan Gymnasium sebanyak lima kali untuk ikhwan (putera) dan tiga kali untuk akhwat (puteri). Pembinaan ini dilakukan setiap Minggu pagi. Sesekali dimajukan ke Sabtu pagi jika hari Minggu tidak memungkinkan. Tentu ada konsekuensi Etos counter jika tidak melaksanakannya.
Awalnya, saya malas melakukannya. Hal ini lebih karena saya sudah lama tidak melakukannya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menikmati pembinaan ini. Saya mulai menikmati saat saya sedang berlari.
Berlari memutar lapangan gymnasium seperti miniatur perjalanan hidup.
Untuk saat ini, saya hanya menargetkan waktu. Mungkin suatu saat akan saya tambah jumlah putarannya. Saya berusaha lari secepat mungkin. Meskipun begitu, saya yakin waktu yang saya perlukan tidak mungkin nol. Sama halnya dengan target-target yang sudah memenuhi dinding kamar saya. Tidak mungkin saya dapat meraih mereka jika saya tidak melakukan apapun, kecuali Allah lah yang menghendeki hal itu.
Setiap lari, saya selalu punya target. Saya harus berlari terus tanpa henti pada putaran pertama. Saat malas dan lelah menggoda, saya berteriak dalam hati, "JIKA SAYA MENYERAH HANYA PADA INI, BAGAIMANAN MUNGKIN SAYA BISA MENGHADAPI HAL YANG LEBIH BESAR?"
Kenapa putaran pertama?
Karena menurut saya, sebuah target harus memiliki persiapan yang matang. Awalan saya nilai cukup penting. Semacam batu loncatan untuk putaran berikutnya. Dan menurut saya, sebuah target akan lebih mudah mencapainya jika terget yang besar itu dipecah menjadi target-target yang lebih kecil. Saya percaya sebuah cita-cita yang besar dimulai sejak kita mulai memikirkannya. Dan pencapaian cita-cita yang besar itu dapat dicicil dari penyusunnya yang lebih kecil.
Misalkan saya menargetkan lolos SNMPTN Departemen Statistika, FMIPA IPB. Untuk mencapainya saya harus lebih dulu mencapai target belajar saya. Berapa buku yang harus saya baca, berapa soal yang harus saya kerjakan, dan sebagainya.
Kembali pada saat saya lari. Pada seperempat putaran terakhir, saya hanya fokus pada garis finish. Saya tak ingin mendengar mulut saya mengatakan keluhan. Lalu saya kembali berteriak dalam hati, "FOKUS PADA TARGET! TARGETKU SUDAH JELAS, AKU HANYA PERLU UNTUK MENCAPAINYA!"
Hal ini terbukti efektif, seketika energiku bertambah, tubuhku terasa ringan, dan tak lagi mendengar pikiran malas dan lelah.
Ada sebuah kisah yang saya baca dari sebuah buku, tapi saya lupa judul dan pengarangnya.
Suatu hari ada sebuah rombongan yang tersesat dalam sebuah gua. Setelah lama berjalan, rombongan tersebut tak juga menemukan jalan pulang. Rombongan tersebut merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Di tengah kelelahan, salah satu dari rombongan melihat ada secercah cahaya masuk ke dalam gua. Mereka sangat senang dan yakin itu adalah pintu keluar. Meskipun demikian cahaya tersebut sangat kecil, yang berarti jarak mereka ke sumber cahaya tersebut cukup jauh. Mereka tak mungkin menyerah, apalagi setelah mereka menemukan jalan keluar. Meskipun mereka telah menemukan jalan keluar, mereka tetap harus berjalan untuk mencapainya.
Saya percaya bahwa tidak ada hasil yang instan (kecuali kehendak Allah). Mie instan saja harus melalui beberapa proses untuk bisa disantap. Karena itu, saya mencoba berlari sekuat yang saya mampu.
Semangat pagi, Kawan!
Label:
beastudi etos,
cinta,
hikmah berlari,
ipb,
Opini,
statistika
Langganan:
Postingan (Atom)





