Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Commuter Line

Anda seorang pengguna harian commuter line?



Bagi Anda yang setiap harinya harus naik commuter line tentunya Anda setuju jika setiap hari Anda bertemu dengan banyak orang. Mungkin beberapa orang Anda kenali sebagai penumpang yang sebelumnya Anda gunakan. Jumlahnya mungkin hanya hitungan jari dan mereka biasanya adalah orang-orang yang membuat Anda terkesan. Namun, seringkali Anda tidak terlalu memperhatikan siapa-siapa saja yang Anda temui di dalam stasiun maupun gerbong. Anda lebih fokus pada diri sendiri dan mungkin menganggap orang-orang yang Anda temui 'hanya lewat' saja.

Apalagi di era gadget dengan internet yang semakin mudah, membuat Anda mungkin lebih suka mengobrol di dunia maya. Membuka-buka situs yang tampaknya tak terlalu Anda butuhkan. Hanya ingin membukanya saja. Siapa tahu ada yang menarik mata Anda untuk dibaca. Beberapa dari Anda mungkin sengaja memasang headset/earphone dan memasang volume cukup tinggi. Teman setia perjalanan Anda. Tak sedikit di antara Anda akan membeli masker, bukan karena sakit tapi untuk menutup mulut Anda saat tertidur. 

Beberapa dari Anda mungkin akan mencoba mengobrol dengan penumpang di sekitar atau justru Anda yang akan diajak mengobrol. Namun, apakah setelah itu ada 'follow up' dari obrolan Anda dengan mereka?

Jangankan saling tukar kartu nama, saling tahu nama saja mungkin adalah kejadian yang langka. Padahal Anda berkesempatan memperluas jaringan dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan latar belakang yang bermacam-macam setiap harinya. 

Bagi para 'single', dengan sedikit keberanian mungkin akan bertemu dengan tambatan hati.
Bagi para 'job-seeker', dengan sedikit sopan santun mungkin akan mendapatkan pekerjaan.
Bagi para 'entrepreneur', dengan sedikit memanfaatkan peluang mungkin akan mendapatkan stakeholder.

Sebelum Anda mencoba, siapa yang tahu?


Wallahu'alam.

Minggu, 20 Juli 2014

Potongan Pertama

Ini ceritaku. Seorang gadis umur 23 tahun yang tak pernah memiliki pacar. Tentu saja aku punya seseorang yang ku suka. Dia adalah pria paling tampan.

Kami seolah punya radar. Aku selalu bisa menemukannya ketika aku benar-benar menginginkannya. Aku tak benar-benar mengenalnya. Berbicara dengannya pun tidak. Aku hanya sekali melihatnya dan langsung jatuh cinta. Mungkin ini yang disebut sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, betapa konyolnya.


Apakah kau pernah merasa lututmu lemas dan hatimu bergetar? Aku selalu merasakan itu semua saat melihatnya.  

Selasa, 15 Juli 2014

Pangeran Berkuda Putih

Saat kecil saya selalu disuguhi tontonan dongeng-dongeng kerajaan macam cinderela, putri salju, sleeping beauty, beauty and the beast, dsb. Ternyata hal ini cukup mempengaruhi selera saya dalam hal ketertarikan terhadap pria. Pria-pria model pangeran yang gagah, pinter, dan tinggi selalu menjadi favorit saya. Sampai-sampai setiap ditanya dengan siapa saya ingin menikah, saya selalu menjawab "Pangeran Berkuda Putih".
Selain itu hampir disetiap telenovela, sinetron, drama Taiwan, Jepang, dan Korea yang saya tonton selalu menghadirkan peran utama pria model-model pangeran. Biasanya saya kurang tertarik untuk menonton jika pemeran utama prianya tidak cukup menarik perhatian. Kecuali jika track record sutradara atau pemain utama wanitanya saya suka dan ceritanya yang recomended.
Harapan saya akan sosok pangeran berkuda putih ini semakin menjadi-jadi setelah saya menonton sebuah FTV. Ceritanya tentang gadis tomboy yang mendambakan sosok pangeran berkuda putih. Wah saya banget tuh!

Saya sedikit lupa, sepertinya karena perjodohan keluarga maka si gadis tomboy ini harus menikah. Sontak si gadis menolak sampai kabur-kaburan. Apalagi calon mempelai pria terkesan seperti anak mamih, jauh dari tipe idamannya selama ini. Singkat cerita, kesaaran dan ketulusan si pria berhasil membuat luluh hati si gadis. Mereka pun akhirnya sepakat menikah. Pada hari pernikahan, si gadis dirias menjadi begitu cantik dan nampak anggun bak puteri kerajaan. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata mempelai pria tak kunjung datang. Si gadis dan keluarga panik. Di pikir oleh si gadis bahwa si pria sedang membalas dendam akibat ulahnya selama ini. Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Mempelai pria bak pangeran datang menunggangi kuda putih.

Bikin mupeng kan? Iya banget.
Oke, balik ke pengaruh dongeng dengan selera saya terhadap pria. Semakin bertambah buku yang saya baca, semakin bertambah orang yang saya temui, semakin bertambah cerita yang saya dengar, semakin bertambah film yang saya tonton, selera ketertarikan saya terhadap pria berubah. Saya tak lagi mendambakan pangeran berkuda putih. Mengingat saya sendiri juga bukan seorang puteri. Yang saya inginkan tak banyak. Saya hanya menginginkan teman hidup untuk berbagi dalam suka dan duka sekaligus nahkoda yang akan membimbingku mengarungi luasnya samudera kehidupan menuju keridhaanNya. Itu saja.

Sebuah pembelajaran yang saya peroleh dari apa yang saya alami dan rasakan. Menurut saya hal ini cukup penting bagi orang tua dan calon orang tua.
Yuk, lebih biasakan anak-anak kita dengan sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah dibanding dengan dengan dongeng-dongeng yang menyesatkan. Hehe

Bogor, Tempat Sejuta Kenangan

Bogor, tempat sejuta kenangan...

Masih ingat betul sewaktu pertama kali aku menginjakkan kaki di Bogor.
Waktu itu mama dan lilik yang mengantarku.
Baru sampai di Baranangsiang kami langsung disambut hujan.
Keberadaan mama benar-benar menghangatkan disela-sela kecemasan karena menginjakkan kaki berjuang di tempat baru.Beruntung aku tak benar-benar sendiri.
Ada keluarga baru, keluarga keduaku, UDHINERS 47 dan KELUARGA BESAR ETOS BOGOR.
Syukur tak henti-hentinya karena aku memiliki mereka.
  
Ah, rasanya semua itu baru kemarin sore.
Nyatanya empat tahun telah berlalu.
Bogor seolah menjadi oase ditengah gersangnya hati, menyapu segala duka dengan kesejukan.
  
Bogor, tempat sejuta kenangan...
tempat yang indah menimba ilmu,
tempat yang damai untuk menjalin ukhuwah,
tempat yang asyik membangun pengalaman,
tempat yang ... untuk menyusun mozaik hidupku menjadi lebih tertata dan bersinar.
  
Rasanya sayang harus pindah dari Bogor.
Bogor selalu membuatku rindu.
Perjalanan ke Bogor selalu membuatku bersemangat, dag dig dug seperti mau bertemu pujaan hati.
  
Di Bogor pulalah kepasrahan dan ketulusan aku pelajari.
Berkunjung ke bogor bak obat mujarab penghilang stress dan kefuturan.

Bogor benar-benar 'sesuatu'

Menunggu di Pasar

Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara fals pengamen terdengar diiringi petikan gitar ala kadarnya
menyanyi sebisanya demi recehan
kulihat perempuan kecil berbaju merah bersusah payah menggandeng tangan ayahnya
pasangan muda-mudi tak tahu malu menampakkan mesra
serasa dunia milik berdua
gelora pasangan senja tak mau kalah
berlenggak bersama

Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara penyanyi goyang dari kaset bajakan mengeras
menjadi latar adegan selanjutnya
beberapa bocah lelaki terdiam, terpaku pada penyanyi goyang
seorang wanita agak gempal menawar baju sejadi-jadinya
sang abang penjual yang tak lebih galak menggeleng pelan dengan muka kecut
Di sisi lain, lelaki pedagang gantungan jilbab berlalu lalang sepi pembeli
rautnya hampir menyerah, tapi ia tak mau kalah
Di dekatku, lelaki penjual ikan bandeng jongkok memandang dagangannya yang belum berkurang
Tiba-tiba perempuan muda menghampirinya,
membuatnya kembali bergairah

Aku terpejam, hening
lama terpejam,
kali ini tak ingin lekas membuka mata
merasa dongkol
masih terpejam,
badanku terasa pegal akibat berdiri lama
masih terpejam,
aku merentangkan tangan
meregangkan sendi-sendi yang kaku
masih terpejam,
tanganku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat
aku ingin segera membuka mata,
namun benda lembut dan hangat itu sekejap berpindah
menghalangiku membuka mata
aku semakin penasaran
aku berbalik

"sudah lama menunggu?"

senyum polosnya membuat
rasa dongkolku hilang, aku justru tersenyum dan segera menggandengnya, pulang...

Rabu, 10 Juli 2013

Uje Membuat Saya Cemburu

Berita tentang wafatnya UJE memang sudah lama terdengar, tapi saya rasa gaungnya masih sampai sekarang. Saat berita tersebut pertama di kabarkan, saya menangis. Bukan karena saya adalah penggemar UJE, tapi karena saya sangat cemburu padanya. Ketika wafatnya UJE menggema di jagat maya, semua orang berkicau hal baik tentang dirinya. Doa-doa mengalir tak ada habisnya. Pada saat itu juga saya menangis dan bertanya pada diri sendiri, "jika kelak saya mati, hal mana yang lebih banyak orang sampaikan? Hal baik atau hal buruk?"
Pertanyaan ini merasuk dan seketika menjadi ketakutan tersendiri. MALU. Sangat malu jika pada akhirnya orang-orang justru mengatakan hal buruk pasca saya meninggal.
UJE dikenal sebagai ustad gaul yang mampu diterima setiap kalangan, terutama remaja. Bahkan, pemilik nama Jeffri al Bukhari ini dikagumi oleh kalangan non-Islam. Pada awal kemunculan beliau di layar kaca, sebenarnya saya kurang suka. Mungkin bertentangan dengan selera saya selama ini yang lebih menyukai ustad-ustad kalem, lembut, dan menyentuh semacam Qurai Shihab dan AA Gym. Namun, justru gaya khas UJE inilah yang unik dan lebih diterima oleh remaja khususnya. Dari pengamatan saya, mayoritas remaja justru kurang menyukai pendakwah yang kalem. Kemunculan UJE seolah oase bagi para remaja yang memang haus spiritual. Gaya UJE yang segar tanpa terkesan sok pintar lebih turut menambah alasan kenapa UJE disukai dan dikagumi anak-anak muda.

Karena Aku ya Diriku!


Namaku Efi Riana, tapi orang lebih suka memanggilku dengan ‘Teppy’. Sebuah panggilan sayang yang disematkan Ibu ini seolah menjadi identitas baru. Kadang aku berkelakar dengan teman yang memanggilku ‘Teppy’ bahwa Efi Riana iri karena Teppy lebih terkenal. Aku dilahirkan pada 27 Desember di Banyumas, sebuah kabupaten besar dengan 27 kecamatan yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Ayahku bernama Kiswanto, sedangkan Ibuku bernama Poniyem.

Meskipun kedua orangtuaku tidak menamatkan sekolah hingga SD, Alhamdulillah memiliki empat puteri yang dikenal berotak cukup encer oleh sebayanya. Ketiga saudara perempuanku berturut-turut adalah Soimah, Sulastri, dan Ani Kistiyani. Aku ada di posisi ketiga di antara Mbak Sulastri dan Ani. Kami berenam (sebelum kedua kakakku berkeluarga) menempati sebuah kediaman sederhana di Desa Tunjung No. 51 RT 03 / RW 01, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, Kode Pos 53174. Setelah kedua kakakku menikah, kami tinggal berempat. Lalu setelah aku harus melanjutkan studi, anggota keluarga yang tinggal di rumah kembali berenam. Karena sejak kematian suami kakakku yang kedua, dia beserta kedua puteranya kembali tinggal di kediaman orang tua.

Sejak kecil aku suka bertualang. Aku suka mencoba menemukan jalanku sendiri. Mungkin karena kebiasan itulah, aku tumbuh menjadi seorang yang cukup berani dan selalu berusaha untuk bisa hidup mandiri. Dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA kelas 10, aku selalu menjadi peringkat pertama di kelas. Setelah itu peringkatku berganti dari 3, 2, dan 1. Bukan karena aku malas belajar, tapi karena aku mulai mengalami disorientasi. Bukan lagi nilai yang ku kejar, tapi prestasi lain berupa penghargaan dan pengalaman hidup.

Aku cukup lama berkecimpung di dunia pramuka. Pertama kali terlibat saat SD kelas 3. Waktu itu aku mengikuti pesta siaga di kabupaten. Setelah itu berlanjut ke lomba pramuka penggalang, sampai saat SMP aku bersama tim menorehkan prestasi yang cukup luar biasa. Aku dan tim menjadi Juara I Pramuka Penggalang se-Banyumas dan Juara I Gelar Ketrampilan Pramuka se-Jateng.

Selain pramuka aku juga sangat menyukai Matematika. Sejak SD hingga SMA aku mengikuti berbagai lomba Matematika. Prestasi terbesarku aku menjadi Finalis Olimpiade Matematika se-Indonesia saat SMP. Orientasiku berubah saat masuk SMA. Aku masih menyukai Matematika dan tergabung di OSIS, tapi aku beralih dari pramuka ke Palang Merah Remaja (PMR), tepatnya menjadi wakil ketua. Sebenarnya saat SMP aku sudah bergabung di PMR, tapi pasif karena lebih fokus di pramuka dan OSIS. PMR ku pilih sebagai batu loncatan meraih cita-cita yang sempat ku genggam sejak kecil, menjadi seorang dokter. Hasilnya cukup membanggakan aku menjadi Peserta Konferensi Palang Merah Remaja I Propinsi Jawa Tengah. Lalu aku menjadi tim Penyusun/Kontributor Buku PMR dan Relawan di PMI Pusat dan aku menjadi Duta Forum Palang Merah Remaja Indonesia (Forpis) Kabupaten Banyumas dan Provinsi Jateng.

            Mimpiku menjadi dokter pupus bahkan mimpi untuk kuliah perlahan sempat ku padamkan. Selama SMA aku mendapat 2 beasiswa, sehingga tak banyak menyulitkan orang tua. Karena itu aku tak tega meminta dikuliahkan. Setelah bekerja selama hampir setahun di Bekasi, aku mendaftarkan diri di beberapa universitas. Geloraku menjadi dokter masih terasa, tapi pupus setelah mengetahui bahwa beasiswa yang ku lamar tak menyediakan jurusan kedokteran untuk universitas-universitas di daerah barat (Jakarta dan Jawa Barat). Berbekal kecintaan terhadap Matematika, aku mendaftar jurusan Statistika IPB.

Bidang non akademik yang ku jalani pun berubah, tak lagi pramuka ataupun PMR. Aku beralih ke bidang jurnalistik, sebagai reporter Koran Kampus IPB. Sebagai seorang reporter, aku berkeampatan untuk menghadiri beberapa acara dan orang-orang penting. Dan kini, aku menjabat sebagai Pimpinan Litbang. Aku juga sedang merintis CIDES Bogor dan menjadi Project Officer Rumah Kumbara. Aku juga tercatat sebagi anggota Forum lingkar Pena Bogor dan IPB Youth Journalist bidang film dokumenter. Aku sempat menjadi HRD dan Quality Product sebuah bimbingan belajar dan menjadi Ketua Divisi Pendidikan SDP Galuga, Beastudi Etos Bogor. Beberapa kepanitian Beastudi Etos Bogor ku jalani sebagai tanda terima kasih. Seringkali aku ditempatkan di divisi Desain, Dekorasi, dan Dokumentasi.

Meski menjadi dosen adalah cita-cita pilihan terakhir, aku menyukai diriku saat mengajar. Aku senang saat berbicara di depan banyak orang, memotivasi, berbagi pengalaman dan ilmu. Selain mengajar untuk bimbingan belajar, aku juga terdaftar sebagai asisten praktikum untuk dua mata kuliah yaitu Metode Penarikan Contoh dan Sosiologi Umum.

Selama kuliah, prestasi di bidang perlombaan/kejuaraan mungkin tak banyak yang bisa kuraih. Namun aku selalu bersyukur bisa meraihnya. Aku meraih Juara III Mahasiswa Prestasi Asrama TPB, Juara III Lomba Kerja Tulis Ilmiah se-Bogor, Juara I Lomba Debat Kandungan al Quran se-IPB, dan Juara III Lomba Baca Puisi SPIRIT FMIPA IPB. Selain itu, aku pernah dua kali diundang untuk tampil di sebuah acara: memotivasi dan membacakan sebuah puisi.

Aku suka mempelajari banyak hal. Aku suka membaca buku terutama buku inspiratif. Aku senang melibatkan diri di bidang politik (meski sangat tak suka politik), sejarah, dan misteri. Aku masih berambisi menjadi dokter dan sutradara. Aku suka mendengarkan musik sesuai mood. Aku suka berlari, meski hanya kulakukan seminggu sekali. Aku suka menonton film, bukan masalah siapa aktornya melainkan bagaimana suatu saat nanti aku bisa membuat film yang berkualitas. Aku sangat betah berlama-lama di depan Asusku. Bergumul dengannya membantuku menikmati hidup. Bagiku prestasi bukan hanya seberapa banyak piala, medali, atau sertifikat yang kita peroleh, melainkan seberapa besar manfaat dari keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain. Aku, kau, dan dia pasti punya pandangan sendiri mengenai hidup dan prestasi. Inilah aku, diriku, kehidupanku, pemikiranku. Karena aku ya diriku!


Kamis, 09 Mei 2013

Negeri di Ujung Tanduk



Selama tiga hari ini tak bisa tidur. Selalu terbangun di tengah dinginnya malam Kota Hujan. Aku bangun sekitar jam 2. Menikmati momen qiyamu lail yang lebih baik kulakukan. Namun, alasan sebenarnya aku bangun adalah karena penasaran. Penasaran terhadap aksi Thomas di "Negeri di Ujung Tanduk"-buah karya satu-satunya Tere Liye yang sudah aku baca. Ya, novel "Negeri di Ujung Tanduk" berhasil mencuri perhatianku setelah sekian kalinya Tere Liye menghasilkan karya. Bukannya aku baru tahu tentang Tere Liye, justru aku sudah mendengar nama dan karyanya sejak tiga tahun yang lalu. Semua orang yang pernah membaca karyanya berdecak kagum dan selalu mempropaganda yang lain bahkan tanpa diminta. Novel-novel Tere liye beberapa diangkat ke layar lebar: Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-bidadari Surga, dan yang sedang dalam proses adalah Moga Bunda di Sayang Allah. Betapa memang karya-karya Tere Liye adalah masterpiece, bukan? Sayang sampai film kedua difilmkan aku masih enggan membaca karyanya.

Meskipun aku tak pernah membaca karya-karya itu, aku tetap mengetahui jalan ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap orang yang ku kenal membicarakannya. Sinopsis dan spoiler juga lengkap beredar di dunia maya. Semakin enggan  saja. Namun tidak untuk novel "Negeri di Ujung Tanduk". Meskipun aku sudah membaca sinopsisnya di beberapa sumber, aku tetap ingin membacanya. Aku jatuh cinta seketika dengan Tokoh Thomas dan berharap suatu saat novel ini juga akan di angkat ke layar lebar. Membayangkan Joe Taslim, Vino G. Bastian, Iko Uwais, Daniel Mananta atau pria sipit siapapun akan memerankan Thomas. Meskipun aku sedikit ragu tentang mungkin tidaknya novel ini akan diangkat ke layar lebar. Pasti butuh bujet yang lumayan untuk menunjang segala ledakan, properti, dan plot. Dari pada dibuat dengan seadanya, aku menyarankan kepada siapaun untuk segera mengurungkan niatnya. Kau hanya akan merusak estetika novel itu sendiri.

Kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta dengan Thomas? Karena dia makhluk langka. Pria tampan, kaya, cerdas, dan sangat peduli dengan keluarga, pegawainya, temannya, kliennya, negaranya, bahkan musuhnya. Bagaimana mungkin? Yah, itulah Fiksi. Apapun mungkin, bergantung pemilik cerita. Ah, lebih baik kawan baca saja sendiri, daripada aku spoiler dan justru mengurangi minat kawan untuk membacanya. Kawan ketikan saja di Google "sinopsis Negeri di Ujung Tanduk". Aku jamin tak kurang dari 10 alamat akan memberitahu. Mengantarkan kawan pada Thomas. Namun, aku tetap menyarankan kawan untuk langsung mencari novelnya dan langsung membacanya. Atau mungkin dengan membaca sekuel pertamanya terlebih dulu: "Negeri Para Bedebah". Untuk novel "Negeri Para Bedebah" sendiri, aku baru berencana membacanya.

Membaca "Negeri di Ujung Tanduk" seakan membaca Indonesia. Kawan mungkin akan sakit hati, tapi mungkin juga akan semakin menyayangi negeri. Bahwa harapan selalu ada. Novel "Negeri di Ujung Tanduk" hanyalah fiksi. Mungkin saja semua salah, tapi mungkin juga Tere Liye terinspirasi dari kisah nyata. Berbeda dengan fiksi, kisah akhir Indonesia hanya Tuhan yang tahu. Tuhanlah pemilik skeneraio teragung.

Sabtu, 30 Maret 2013

Sukuisme Dalam Keluarga

"Sama orang Jawa saja ya, nduk!"

Saya hanya meringis, mendengarkan nasihat Ibu.

"Wah, gimana donk, Bu? Aku malah mau nikahnya sama bule."

"Weleh-weleh. Gak kasian apa kalo Ibu mau nengok cucu musti pergi jauh-jauh?"

Ibu semakin menjadi-jadi, beliau berbicara stereotip suku-suku di Indonesia, terutama non Jawa. Saya diam sesaat, mencermati penjelasan Ibu.

"Orang Sumatra tuh keras-keras. Batak apalagi. Kalau Padang, ntar kamu ditinggal pergi. Kamu tahu kan si Mawar, Melati, sama Kenanga (Nama disamarkan) yang nikah sama orang Sumatra. Suaminya pergi, gak balik lagi. Tahu-tahu udah nikah lagi di sananya."

"Inggih, Bu."

"Kalau sama Sunda, kamu musti tahan perasaan. Mereka tuh mulutnya manis. Banyak godaannya. Mereka juga biasanya manja, gak biasa kerja keras. Kurang bisa momong."

"Tapi orang Sunda sama Padang kan ganteng-ganteng, Bu. Sedep dipandang gitu."

"Yaelah, nduk. Ntar juga kalo udah tua ilang gantengnya."

"Kalau, Kalimantan gimana, Bu?"

"Aduh, jauh sekali. Masa mau nengok cucu mesti naik pesawat? Kamu tega sama Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu udah gak muda lagi lho?"

Saya menghela napas, mulai memikirkan omongan Ibu. Apa jadinya bila saya tanya pendapat Ibu mengenai orang Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, atatu bahkan Papua. Pasti langsung TIDAK.

"Pokoknya musti orang Jawa!"

Ibu berlalu dengan closing statement yang begitu status quo bagi Saya.

Ibu tentu punya alasan membatasi calon pasangan anak-anaknya. Tapi, benarkah stereotip yang Ibu yakini?


Apa itu stereotip?

Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Beberapa contoh stereotip terkenal berkenaan dengan asal etnik adalah stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.

Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997). Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak. Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.

Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Misalnya saja stereotip terhadap etnis Cina mungkin telah dimiliki oleh seorang etnis Minang, meskipun ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan etnis Cina. Stereotip juga dapat diperkuat oleh TV, film, majalah, koran, dan segala macam jenis media massa. Menurut Johnson & Johnson (2000), stereotip dilestarikan dan di kukuhkan dalam empat cara,:

  1. Stereotip mempengaruhi apa yang kita rasakan dan kita ingat berkenaan dengan tindakan orang-orang dari kelompok lain.
  2. Stereotip membentuk penyederhanaan gambaran secara berlebihan pada anggota kelompok lain. ndividu cenderung untuk begitu saja menyamakan perilaku individu-individu kelompok lain sebagi tipikal sama.
  3. Stereotip dapat menimbulkan pengkambinghitaman.
  4. Stereotip kadangkala memang memiliki derajat kebenaran yang cukup tinggi, namun sering tidak berdasar sama sekali. Mendasarkan pada stereotip bisa menyesatkan. Lagi pula stereotip biasanya muncul pada orang-orang yang tidak mengenal sungguh-sungguh etnik lain. Apabila kita menjadi akrab dengan etnis bersangkutan maka stereotip tehadap etnik itu biasanya akan menghilang.

Matsumoto (1996) menunjukkan bahwa kita dapat belajar untuk mengurangi stereotip yang kita miliki dengan mengakui tiga poin kunci mengenai stereotip, yaitu:

  1. Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbernya langsung. Karenanya interpretasi kita mungkin salah, didasarkan atas fakta yang keliru atau tanpa dasar fakta.
  2. Stereotip seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi seringkali kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain.
  3. Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Generalisasi mengenai sebuah kelompok mungkin memang menerangkan atau sesuai dengan banyak individu dalam kelompok tersebut. 


Saya pertama kali mengenal kata stereotip sewaktu belajar Dasar-dasar Komunikasi dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Dari mata kuliah ini pula saya bertemu dengan seorang dosen (keturunan Belanda) yang akhirnya berani menikahi perempuan Padang. Saya sependapat dengan beliau. Bagaimana pun kita tidak boleh men-generalisasikan sebuah suku. Mungkin stereotip-stereotip di atas berkembang berdasarkan pengalaman. Misalnya kisah si Mawar yang bersuami orang Sumatra dan ditinggal pergi. Namun, bukan berarti semua orang Sumatra akan bersikap seperti itu.

Menurut sensus yang dilakukan oleh BPS, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Informasi yang saya dapat dari Wikipedia, Suku Jawa adalah populasi terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai 41,7 % dari total penduduk Indonesia yang disensus. Suku Jawa yang dimaksud meliputi 3 kawasan utama, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Meskipun jumlahnya besar, hampir setengah penduduk Indonesia, tetap saja yang diinginkan oleh Ibu saya adalah suku Jawa di Jawa Tengah. Menanggapi hal ini, saya mengiyakan. Meskipun demikian, saya tetap menyerahkan semuanya pada Allah SWT.




referensi:
http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/mendefinisikan-prasangka.html
http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html

Kamis, 29 November 2012

DEADline

Last minute person, inilah gelar yang orang2 kasih buatku. Agaknya aku termasuk orang yang percaya pada "the power of kepepet". Hehe ^_^
Saking percayanya, segala hal aku kerjakan pada detik2 pengumpulan deadline. *Gak boleh dicontoh apalagi dikagumi ! :-p
Terkadang apa yang aku lakukan di menit2 terakhir hasilnya sama bagusnya jika dikerjakan dalam waktu yang lama.
Sayangnya, banyak hal yang membuatku menyesal pada akhirnya. Modal pas2an, ngerjain pas2an, dan dampaknya hasil yang pas2an pula.
Sampai suatu hari aku menyebabkan koran kampus gagal cetak. Karena aku melanggar deadline. Meskipun katanya bukan cuma aku penyebabnya, tapi aku adalah salah satu penyebabnya.
Hari2ku mulai berantakan seiring pelanggaran2 deadline yang saling bersusulan. Perasaan kepepet yang biasanya aku nikmati (berasa naik roller coaster), tak lagi membuatku ketagihan. Aku mulai stress and panic at the disco trouble=D
Sejak dipublishnya ketikan ini, aku berharap tak ada lagi si efiriana yang last minute person! Amiiiin=D

Aku punya teman yang inspiring banget soal waktu. Dulu aku sempat heran, bahkan sangat keheran2an mengetahui salah satu teman SMAku yang sekarang kuliah pendidikan matematika di UNY, sebut saja Ummi selalu menyiapkan pakaian apa yang akan ia kenakan selama seminggu ke depan. Setiap hari Minggu, ia menggantung pakaian2 dan kerudung yang match dan mengurutkannya berdasarkan hari. Gak cuma itu, di kala istirahat, yang ia lakukan adalah mengerjakan tugas2 dan pe-er. Dia hampir selalu menjadi 3 besar siswa yang nyampe ke sekolah duluan (pas pulang juga duluan).
What amazing person is!

Pilihan Lurah

Dari kecil, aku memang hobi bertualang sendiri. Inget banget pas masih kelas 1 SD aku diajak bapak nonton pilihan lurah kampung sebelah. Bapakku demen banget datang ke pesta rakyat kaya ginian. Sementara di mata bocah SD kelas 1, khususnya aku, nonton pilihan lurah bagai rekreasi. Setidaknya butuh perjalanan kesana, ketemu banyak orang dan banyak jajanan. Aseeek ^_^
Berasa lagi rekreasi. Aku yang kelas 1 SD hanyut dalam pesta rakyat. Aku memutuskan untuk berkeliling. Meninggalkan bapak yang terlalu fokus dengan perhitungan suara. Tentu aku berani, karena itu sudah sifat bawaan lahir. Aku mengingat2 betul tempat bapak dan setiap langkah yang aku susur. Aku melihat sekitar, siapa tahu aku bisa minta dibelikan sesuatu sama bapak.
Gula-gula agaknya membuatku tergoda. Untung gak sampe ngiler pas lihat anak seumuran dengan puasnya menikmati gula-gula. Aku berhenti bertualang dan berbalik ke tempat bapak untuk minta dibelikan gula-gula. Dan ternyata, bapak gak ada ditempat semula. Cuma ada sepeda ontel teronggok di sana. Aku celingukan. Bapak tak kunjung nampak.
"Ya sudahlah, nanti juga bapak balik ke sini," pikirku.

Alhasil, akhirnya bapak datang. Aku menyambutnya sumringah karena aku akan minta dibelikan gula-gula. Horee!
"ANAK INI! BAPAK CARIIN SAMPE MUTER-MUTER!"

Aku hanya nyengir. Katanya sih aku gak akan diajak nonton pilihan lurah lagi. Tapi nyatanya, sebulan kemudian aku nonton pilihan lurah lagi sama bapak di kampung yang lain dan aku pun pergi keliling sendiri lagi... hehe

Berita mengenai keanehanku keunikanku yang suka ngilang2 ini cukup bertengger jadi trending topik di warung 'Likus'. ('Likus' berasal dari lik: tante, dan kus: Kustirah, nama pemilik warung). Warung Likus ini bisa diibaratkan sebagai medsosnya di kampungku. Biasanya ibu-ibu pada tweet2 soal isu yang beredar. Followernya tinggi, gak sebatas ibu2 satu erte.
Aku mendadak jadi seleb.

Ini Blogku

Hmm, setelah sekian lama hidup. Asyik dengan dunia nyata dan maya, akhirnya aku berani ngetik sampah di dunia maya dalam bentuk blog. Please, berdiri dan kasih aku tepuk tangan atas keberanianku. *pengen banget dapet standing applause. ^_^
Aku iri banget sama junior2 yang udah pada expert ngeblog. Bahkan dari mereka ada yang minta diajarin bikin blog. Huft, jadi semakin tertantang.


Biasanya aku cuma nulis buat diriku sendiri, dibaca2 sendiri, ketawa dan manyun sendiri. Selama lebih dari 2 tahun aku gabung di lembaga pers kampus. Jadi reporter sebenarnya cuma kedok. Biar aku bisa ketemu orang2 penting dan datang ke acara2 secara gratis. Aku juga beberapa kali nulis di kompasiana.com/efiriana.

Dari pengamatanku, setiap blogger punya genre dan style masing2. Dan karena kelamaan mikirin genre dan style apa yang paling cocok, aku justru agak telat bikin blog.
Dan akhirnya inilah blogku. Di blog ini, aku pengin ngetik apapun yang ada dalam pemikiranku, pengalaman2 absurdku, dan mimpi2ku.

SELAMAT MENGETIK !