Kamis, 09 Februari 2017

Rugi Kalo Anti Daun Pepaya

Manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan.

Peribahasa Indonesia yang satu ini memang sering kita dengar. Kalau aku sih yes, kamu?
Peribahasa ini mengingatkan kita agar lebih berhati-hati bahwa tak selamanya yang manis itu baik dan yang pahit itu buruk. Manis yang tak baik misalnya kata-kata manis, janji manis, harapan manis, buaian manis, apalagi jika semuanya hanyalah palsu belaka. Uuups. Mengkonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan juga tak baik, bisa gendut, bisa gupis, gigi berlubang, terkena diabetes, kencing manis, dan gangguan kesehatan lainnya seperti disemutin karena saking manisnya, hehe. Hal-hal pahit yang ada di hidup kita, meskipun pahit (yaiyalah) terkadang justru bermanfaat, seperti obat, kritikan, nasehat, komentar nyinyir para haters, dan sebagainya. Asalkan kita mau lebih ikhlas menerima dan mengambil hikmah yang ada, niscaya dapat memperbaiki pribadi dan kehidupan kita.

Semenjak Bu Lik ku mengidap diabetes dan tubuhku mendadak semok, aku jadi lebih berhati-hati soal konsumsi gula dan makanan-minuman manis. Aku lebih memilih sumber manis dari buah atau sayuran, itupun dengan jumlah terbatas. Kalau memang sedang ingin yang manis-manis paling aku mantengin suami, eh :D. Untuk hal-hal manis bisa dibilang aku sudah cukup berhati-hati untuk tidak lekas menelan, sayangnya untuk hal-hal pahit yang sebenarnya bermanfaat aku masih ogah-ogahan dan cenderung anti. Ngapain nyari yang pahit? Nyiksa lidah banget sih! Begitu pikirku.

Setelah menikah, aku dan suami curhat-curhatan soal makanan dan minuman yang bisa/suka dan tak bisa/tak suka untuk dimakan, biar mengurangi perang dunia antara kita berdua. Aku hampir suka semua makanan yang penting tidak pahit, tidak aneh, dan tidak nyleneh. Dan saat kami makan berdua, nyatanya cukup banyak makanan yang tak bisa/tak suka masuk ke mulutku, terutama sayuran, soalnya rasa klorofil, hahaha. Selama ini aku makan sayuran bukan karena aku suka, tapi karena aku tahu tubuhku butuh. Jadilah aku hanya bisa makan beberapa dan akan aku hindari jika bisa memilih sayuran yang aku ikhlas memakannya. Untuk menyiasatinya biasanya harus dibantu dengan bumbu, lauk, atau aneka sambal saat menyantapnya.

Bagaimana dengan suami? Dia penggila sayuran. Asal ada sayuran, dapur aman. Entah bagaimana caranya, dia begitu menikmati saat-saat sayuran masuk ke dalam mulutnya. Lagi-lagi, kebiasaan suami yang ingin ku tiru, love you yang. Saat aku mulai menolak sayuran dengan bangganya dia akan berkata, "makan sayur lho sehat, dan berasa banget di badan. Kulit jadi kenceng dan muluuus," bujuknya sembari memperlihatkan kulit mulusnya macam sales produk kecantikan. Uuups, maafkan daku sayang. Dan memang, aku kalah mulus, huhuhu.

Tak mau kalah mulus dari suami, aku mulai memaksakan diri merutinkan makan sayur setiap hari. Tak lupa sedia mayones, biar apapun sayurnya rasanya tetap mayones. Hahaha. Meskipun sudah berlatih agar suka sayur, aku masih tetap ogah-ogahan makan sayur yang pahit seperti daun pepaya. Aku orang yang gampang trauma akan sesuatu, sekalinya terasa pahit, suatu hari disuruh coba lagi pasti langsung ngibrit. Meskipun sudah dirayu-rayu, dbujuk-bujuk, dibilang itu tidak pahit, aku akan tetap jawab NO. Tak mau ambil resiko.

Lagi-lagi aku berubah setelah menikah. Sebagai istri yang ingin membahagiakan suami, aku mulai melunak. Mau merubah atau memperbaiki diri untuk kebahagiaan suami yang otomatis menjadi sumber kebahagiaanku juga. Ceritanya aku punya masalah dengan kebasahan. Kebasahan ini terjadi saat ada rangsaan seksual dan normal sebagai pelumas saat ikeuh ikeuh berhubungan suami-istri. Namun, jika kebasahan ini berlebihan dapat mengurangi kenikmatan, apalagi mitos yang dijual produk kewanitaan kan makin keset makin ... (isi sendiri). Inginku kebasahanku yang berlebih ini ditanggulangi dengan cara alami. Setelah nanya-nanya mbah google sampailah aku pada khasiat daun pepaya yang dipercaya mampu menjawab masalahku. Daun pepaya? Oh my God! Bisa gak ya daun pahit itu ku telan? Huhuhu. Akhirnya, demi diri sendiri dan suami, bismillah aja deh. Aku beranikan diri membeli seikat daun pepaya. Dengan resep ala-ala, bukan dari mana-mana, hanya insting saja, hari ini aku berhasil masak daun pepaya tanpa pahit. Yeay! Akhirnya aku bisa makan daun pepaya! Alhamdulillah, prestasi ini! :D


Sebelum kuceritakan bagaimana cara mengolah daun pepaya tanpa pahit, kita omongin dulu kandungan dan khasiat daun pepaya. Daun pepaya ternyata punya seabrek manfaat. Bisa bikin sehat dan cantik. Hasil ngintip di om Wiki, daun pepaya memiliki kandungan gizi yang cukup beragam diantaranya vitamin A 18250 SI, vitamin B1 0,15 miligram per 100 gram, vitamin C 140 miligram per 100 gram daun pepaya, kalori 79 kal per 100 gram, protein 8,0 gram per 100 gram, lemak 2,0 gram per 100 gram, hidrat arang/karbohidrat 11,9 gram per 100 gram, kalsium 353 miligram per 100 gram, dan air 75,4 gram per 100 gram. Daun pepaya juga mengandung carposide yang dapat berfungsi sebagai obat cacing. Daun pepaya mengandung zat papain yang tinggi sehingga menjadikan rasanya pahit, namun zat ini justru bersifat stomakik yaitu dapat meningkatkan nafsu makan.

Daun Pepaya yang bercita rasa pahit ini dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, diantaranya:
  • Batu Ginjal, caranya beberapa lembar daun pepaya dicuci bersih lalu direbus, kemudian air rebusan tersebut diminum dan diakhiri dengan meminum air kelapa muda (namun, bagi yang mengidap hipertensi tidak diperkenankan menggunakan metode ini).
  • Malagizi (gejala kekurangan gizi pada balita), caranya daun pepaya ditumbuk bersama daun dadap serep, dan kapur sirih kemudian dipergunakan sebagai bedak dan dioleskan pada perut si penderita.
  • Sakit perut pada waktu haid, caranya 1 lembar daun pepaya ditumbuk bersama dengan buah asam dan garam lalu ditambahkan air masak, campuran tersebut kemudian diperas, disaring dan diminum pada saat haid.
  • Disentri, caranya 2 lembar daun pepaya direbus dalam 1 liter air bersama dengan 1 sendok teh bubuk kopi, lalu disaring dan diminum satu cangkir per hari.
  • Diare, caranya daun pepaya direbus bersama dengan minyak kelapa, lalu daun pepaya yang layu tersebut ditempelkan pada perut penderita.
  • Membasmi cacing perut, caranya daun pepaya direbus dalam 2 gelas air bersama dengan adas pulowaras sampai mendidih, lalu air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap malam sebelum tidur.
  • Mengatasi keputihan, caranya 1 daun pepaya yang telah dicuci bersih direbus dalam 1,5 liter air bersama 50 gram akar alang-alang dan pulasari, kemudian air rebusan tersebut disaring dan diminum setiap hari satu kali.
  • Mengatasi jerawat, caranya 2-3 helai daun pepaya yang sudah tua dijemur kemudian dihaluskan dan ditambahkan air kemudian sari daun pepaya tersebut dioleskan pada bagian yang berjerawat.
  • Mengatasi noda hitam di wajah, caranya daun pepaya dihaluskan dengan cara ditumbuk ataupun diblender dan ditambah air, kemudian air sari daun pepaya tersebut dicampurkan dengan masker dan dioleskan pada wajah, setelah 15 menit wajah dibasuh dengan air hangat sampai bersih.
Masih info dari om Wiki, cara pengolahan agar daun pepaya tidak pahit adalah dengan mencampurkan dengan daun jambu biji atau daun singkong. Aku sendiri menggunakan campuran daun bayam dan berhasil. Aku memasaknya dengan cara dikukus. Kalau tidak ada stok daun lain sebagai campuran, dapat juga ditambahkan mentega dan gula pasir secukupnya. Bisa juga dimakan dengan bantuan mayones bagi yang suka. Semoga bermanfaat ^^


Bali, 9 Februari 2017

Selasa, 07 Februari 2017

(Ngomongin Film) Eungyo

Menjadi tua tak menghalangimu untuk jatuh cinta.


Sungguh kasian. Begitulah kesan mendalam yang ku rasa sepanjang menonton film Eungyo atau A Muse. Bagaimana tidak, cinta hadir tapi tak bisa kau miliki.
Adalah Profesor Lee Juk-Yo (70 tahun), seorang penulis puisi nasional –setara peraih nobel, jatuh cinta pada gadis belia usia tujuh belas tahun bernama Eungyo. Apakah itu cinta atau nafsu belaka?
Jatuh cinta di usia senja dengan gadis yang menganggapmu sebagai kakeknya hanya akan menjadi skandal. Itulah yang kerap dilontarkan Seo Ji-Woo, murid sekaligus asisten Prof. Lee yang selama ini mengabdi dengan setia.
Menjadi tua mebuat Prof. Lee dicuri berkali-kali dan itu dilakukan oleh muridnya sendiri. Seo Ji-Woo tak hanya mencuri karya Prof. Lee, tapi juga cintanya pada Eungyo.
Karena film ini film festival, aku tak menyarankan kau untuk menontonnya karena adegan plus-plus hadir dengan cukup vulgar. Jadi kuceritakan saja ya. Tapi rangkumannya sudah ku tulis, apalagi yang ingin kau tahu? Bagaimana dengan alasan kenapa aku menonton film ini? Hehe.

Ini semua karena drama Goblin. Pemeran utama wanita berhasil mencuri perhatianku dan wow dia menang empat penghargaan film karena sebuah judul film. Jadilah aku penasaran, lalu aku mencari trailernya. Film yang menarik sepertinya, tapi tak langsung ku tonton. Barulah saat luang, aku menonton. Dan itu meninggalkan kesan yang mendalam: Menjadi tua dan sendiri. Dua hal paling menakutkan yang tak mau ku bayangkan. Kalau memang harus tua, aku tak mau sendiri. Aku ingin tetap bersama orang-orang terkasihku, terutama suami yang belakangan membuatku jatuh cinta.

Kembali ke film Eungyo. Bagaimana dengan si gadis Eungyo? Menurutku dia adalah gadis kesepian yang tak mendapat kedamaian hati di rumahnya. Dia seperti bermasalah dengan ibunya dan seperti kehilangan sosok ayah, tak terlalu diceritakan secara detail di film, tapi tingkahnya menunjukkan bahwa ia haus kasih sayang. Alhasil tingkahnya sedikit menggoda. Pantas saja dia menang empat penghargaan, selain aktingnya yang memang ciamik, dia sangat sangat berani (buka-bukaan), tapi sajiannya tetap indah. Puisi tentang Eungyo yang dibuat Prof. Lee mau tak mau akan turut membuatmu merasakan cinta itu, indah. Sayang, Eungyo mengira bahwa penulis puisi itu adalah Seo Ji-Woo, dia jatuh pada hati yang salah.

Mungkin dari semua tulisan di atas aku seperti menaruh kebencian yang sangat pada Seo Ji-Woo, memang! Hahaha. Seo Ji-Woo sebenarnya juga sosok kesepian. Kekagumannya yang besar pada profesornya membuatnya terjebak. Ia yang seorang engineer memaksakan dirinya mengikuti jejak idolanya. Dia harus bertanggung jawab atas hadiah Prof. Lee, novel atas namanya menjadi best seller. Kebanggaan seperti apa yang bisa kau rasakan untuk karya orang lain? Ditambah puisi yang ia curi pun menjadi pemenang award tahunan. Bertambah lagi beban yang ia rasakan. Ia sukses, kaya, dan terkenal, tapi tak damai, untuk apa? Mungkin perasaan-perasaan seperti itu yang dirasakan koruptor kaya, pegawai nyogok, artis plagiat, dan pemimpin hoax. Mungkin sih, terutama kalau nuraninya masih ada. Kalau nurani sudah hilang entah kemana, mungkin bisa tertawa dan tidur nyenyak tanpa merasa berdosa. Selama ini Seo Ji-Woo mengabdikan dirinya, tapi ternyata yang ia lakukan tak pernah tulus. Ah, benar-benar tokoh yang paling menyebalkan. Pantas saja Prof. Lee sampai merencanakan pembunuhan atasnya. *evil laugh

Bagaimana nasib ketiga tokoh di akhir film? Tragis. Jangan tonton! Wkwkwk
Sekedar informasi, usia pemeran Prof. Lee saat memainkan peran ini adalah 35 tahun. Make up artisnya memang juara. Di film ini ada saat-saat Prof. Lee membayangkan menjadi muda kembali, lalu bermain kejar-kejaran dengan pujaan hati. So sad, andai kau masih muda kek.

Setelah menonton film ini, pikiranku sampai pada kisah Rasulullah saw saat menikahi Aisyah ra. Meski tak bisa dan tak boleh disamakan atau bandingkan, beberapa riwayat mengatakan bahwa saat itu usia Aisyah masih belia sementara Rasulullah sudah lebih dari setengah abad (masih kontradiktif tentang usia sebenarnya saat Aisyah menikah) dan tak masalah. Jelas berbeda memang, hanya kepikiran saja, sepertinya masyarakat saat ini masih suka menjadikan cibiran ketika ada pria berumur menikahi gadis belia. Padahal kan kata pak ustad menikahi gadis belia bisa membuat seorang pria awet muda (belum nyari riset ilmiah, jangan mudah percaya ;p).


Bali, 7 Februari 2017

(Ngomongin Film) 12 Angry Men

Satu lagi judul film rekomendasi suami yang ku tonton hari ini. Meski suami sudah nonton, seperti biasa dia akan tetap ada di sampingku, ikutan nonton dan ya sesekali berkomentar. Baiknya, ia bisa stay cool tak bergeming kalau aku mulai nyericis bertanya-tanya yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan jawaban yang justru aku akan marah kalau sampai spoiler, wkwkwk. Kece memang! Sayang, maafkan daku....

Judul filmnya adalah 12 Angry Men. Ada yang sudah nonton?


Film hitam putih produksi tahun 1957 ini hanya punya satu setting utama: ruangan kecil dengan 1 meja, 12 kursi (ada wc sepertinya), dan tentu saja 12 pria 'marah' dengan berbagai macam latar belakang di dalamnya. Kedua belas pria ini adalah juri sebuah persidangan yang akan memutuskan bersalah tidaknya seorang anak laki-laki usia 18 tahun atas tuduhan pembunuhan terhadap ayahnya. Jika dinyatakan bersalah, anak ini akan di hukumi mati di atas kursi listrik.

Langkah awal penentuan keputusan dilakukan dengan cara voting. Sebelas juri menyatakan bahwa anak tersebut bersalah karena memang semua bukti dan saksi menyatakan demikian. Namun ada seorang juri yang ragu (di akhir film diketahui namanya Davis), apakah anak ini bersalah atau tidak. Dari sinilah film memulai intriknya. Adu argumen, analisa, emosi, 'main' detektif-detektifan, gebrak-gebrak meja terjadi di ruangan tersebut.

Durasi sekitar 100 menit dengan hanya satu setting utama tak membuatku bosan menonton film ini. Film ini sangat cerdas dengan dialog-dialog yang cerdas. Film ini mengulik hati nurani manusia untuk tidak semena-mena atau asal-asalan dalam memutuskan suatu perkara. Apalagi ini menyangkut nyawa manusia. Film ini mengajak penonton untuk belajar memahami sesuatu secara mendalam dan tidak hanya melihat dari satu sudut pandang.

Melihat hanya dari satu sudut pandang hanya akan membuatmu percaya bahwa sudutmu lah yang paling benar, tapi kau mungkin akan kehilangan kebenaran yang lain.

Bagaimana akhir film ini? Silahkan tonton sendiri ^^


Bali, 2 Februari 2017

Kamar 203 Jadi Saksi Kami

Kamar 203 jadi saksi kami berdua berdialog, bertukar pikiran, saling bully, saling debat, saling belajar, bahkan saling xxx. Tak melulu soal cinta, malah kami jarang membicarakannya, lebih suka praktik sepertinya, uups. Kami senang membahas isu-isu terkini. Pokoknya meski kebanyakan waktuku kini jadi istri rumah tangga (semoga segera naik level jadi ibu rumah tangga, amin) komitmenku, aku musti up to date dan berwawasan. Ngaha banget :p



Dialog-dialog kami menyoal agama, ekonomi, politik dan pemerintahan, keluarga, dan rencana masa depan bersama. Aku senang suamiku adalah orang yang cerdas dan berwawasan. Brainy is really sexy. Dia semakin tampan saat menampilkan kecerdasannya. Aku beberapa kali melongo tercengang mendapati bahwa ada banyak hal yang belum ku ketahui. Kadang hal yang baru ku ketahui itu menakutkan. Entahlah, sepertinya selama ini bukannya aku tak tahu, aku hanya menolak untuk tahu. Terbaca naif, ya memang, demikianlah aku. Selama ini aku hanya ingin percaya bahwa dunia dan kehidupan ini indah, putih, dan manis. Aku lebih senang menarik hal-hal baik dan orang-orang yang menurutku baik ke dalam lingkaran kehidupanku. Aku tak mau menambah masalah.

Semakin berdialog dengan suami, aku mendapati bahwa diri ini adalah orang yang sangat egois, apatis, dan hanya mementingkan kebahagiaan dan kesuksesan sendiri. Benar-benar sosok individual. Alhamdulillah Allah menjodohkanku dengan suamiku. Aku belajar banyak. Sungguh, dia adalah orang baik yang ingin ku tiru. Dan karena dialog-dialog kami begitu seksi, sayang jika tak ku bagi. Karena itu aku sengaja membuat laman khusus "Debat Kasur".

Dialog antara aku dan suami lebih banyak terjadi di atas kasur. Saat isu diajukan, awalnya tentu aku sengaja memposisikan diri sebagai oposisi. Karena itu bila kau tetangga kamar kami, dialog yang kami lakukan bisa terdengar sebagai debat. Tapi aku jamin itu bukan debat kusir, tapi debat kasur. Hanya pikiran kami yang memanas, hati tidak. Toh seringkali kami melakukannya sambil berpelukan. Aku masih membawa gaya reporterku, tak jarang aku sengaja mengintimidasi, hahaha. Maafkan aku sayang. Kau benar-benar tampan saat berargumen. Aku hanya ketagihan menyelami dalamnya pikiranmu.

Jadi, apa topik debat kasur kita malam ini?



Bali, 7 Februari 2017

Sabtu, 04 Februari 2017

"Suami, Pergilah Bersama Teman-temanmu! Bahagiakan dan Mudakan Dirimu!"

Kalau tulisan Bapaknya Jiwo yang viral itu adalah mengizinkan istrinya untuk 'cuti' dan berlibur dari rutinitas peran istri dan ibu, aku tak mau kalah: menyetujui suami menggunakan waktu off nya untuk dihabiskan bersama teman-temannya. Oiya, aku sudah punya suami lho sekarang (#bangga). Nanti-nanti ku ceritakan insyaallah. Karena sudah menyetujui begini nanti akan ada media yang nyebut aku istri idaman macam Bapaknya Jiwo yang jadi suami idaman gak ya? (Hehe, ngarep yang kebangetan ini)

Meski berat hati karena setelah menikah aku yang memonopoli waktu off suami, aku rapopo. Bukankah dengan begitu aku jadi punya waktu untuk menulis lagi setelah blog ini hiatus tak terurus bertahun-tahun? Selain itu, aku jadi bisa melakukan me time: nonton, layah-leyeh, dan ngeluyur ke tempat yang aku ingin datangi sendiri. Tentu tak lupa dengan izin dan laporan ke suami.

Aku sadar bahwa sebelum ada aku di kehidupan suami, pacar suami selain mama ya teman-temannya. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan suami. Mereka menemani, melindungi, membantu dan mendukung suami selama ini dan akan demikian seterusnya. Sementara aku, bisa dibilang adalah new comer yang tiba-tiba menyita mayoritas pikiran, hati, dan waktunya. Rasanya aku tak punya hak untuk melarang-larang suami berkegiatan bersama teman-temannya. Jadi, ku biarkan saja suami pergi. Biar tetap laki dan muda. Kalau kata suami sih biar aku tahu betapa ngangeninnya suamiku itu. Percaya diri sekali dia, tapi memang benar demikian adanya. Kan setiap ditinggal kerja juga aku sudah dan selalu kangen.

Suami gemar menceritakan teman-temannya kepadaku. Jadi aku tahu hampir semua teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan dan sejauh apa kedekatan mereka. Kalau pun aku belum bertemu langsung, minimal aku sudah pernah mendengar ceritanya atau sekedar melihat fotonya. Jadi, AMAN.



Untuk suamiku,

Sayang, pergilah bersama teman-temanmu!
Bahagiakan dan mudakan dirimu!
Tak usah kau risau tentang aku, aku rumahmu, tempat kembalimu,

Sayang, pergilah jelajahi dunia!
Bersama teman, nikmatilah senja,
Berlarilah di antara pasir dan ombak, lalu berenanglah bersama damai,

Sayang, pergilah kemana ilmu berkumpul!
Perluas wawasan dan kebijaksanaan,
Lalu segera pulang, temui aku yang sudah merinduimu.

Salam kangen dari istrimu, mmmuach!

Bali, 4 Februari 2017

Kamis, 18 Desember 2014

46 Poin Menyoal Natal oleh Ustad Salim

Belakangan ramai antara boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan natal bagi yang merayakan. Setelah hunting referensi, saya memilih apa yang disampaikan oleh ust. Salim berikut. Silahkan dicermati dan direnungkan. Kalo setuju silahkan share seluas2nya. Namun jika kurang tepat, silahkan dikoreksi.
1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi’an (kristolog Jogja -red); “Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak."
2. Wasi’an: “Kalian mengimani Musa, juga ‘Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda.”
3. Wasi’an: “Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan.”
4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82).
5. Tapi mungkin memang sudah tabiat ‘aqidah, satu sama lain tak
rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120).
6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: .
7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64).
8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6).
9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai ‘Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.
10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.
11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?
12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & ‘Isa yang tiada duanya.
13. Termuliakanlah ‘Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59).
14. Termulialah ‘Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)
15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai ‘Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam.
16. ‪#‎Natal‬ ini, kalian rayakan kelahiran ‘Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.
17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember.
18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.
19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul ‘Azmi nan teguh hati; ‘Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini.
20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan ‘Son of God’ sebagai ‘Sun of God’.
21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya ‘Isa, kawan terkasih.
22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.
23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di ‘Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para ‘ulama.
24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86)
25. Yang disepakati para ‘ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.
26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para ‘ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas ‘aqidah.
28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da’wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang ‘Ibrahim Mencari Tuhan’, tapi ‘Ibrahim Berda’wah’, demikian ditegaskan Al Qurthuby.
30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
32. Adapun Al ‘Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA (Kerajaan Saudi Arabia), dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai ‘aqidah keliru.
33. Jadi ikhtilaf ‘Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.
34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.
35. Lajnah Fatwa KSA & Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.
36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi’i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.
37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.
38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.
39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll .
40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al ‘Utsaimin pada posisi memelihara ‘izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.
41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.
42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan ‘ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini:http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html
43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari’at.
44. Sebab itu; para ‘Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA’ (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.
45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.
46. Demikian bincang Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama;)

Rabu, 17 Desember 2014

5 Cara Menaklukan Pemeran Utama Pria ala Drama Korea

Saking banyaknya drama Korea yang pernah saya tonton, saya sampai pada kesimpulan berikut.
5 Cara Menaklukan Pemeran Utama Pria (PUP) ala Drama Korea:
1. Jadilah Diri Sendiri
Hampir semua pemeran utama wanita (PUW) drama Korea adalah sosok yang apa adanya, gak jaim, dan bahkan gak malu untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari kata anggun. Cara ini gratis sekaligus menentramkan. PUW tak perlu berpura-pura menjadi orang lain. PUP menerima PUW apa adanya dan jadi lebih mengerti dan memahami PUW. Lihat saja kelakuan Geum Jan Di (BBF), Gu Mi Ho (Nine Tail Fox), Tae Gong Sil (Master's Sun), dan masih banyak lagi yang meski penampilan dan kepribadian mereka tak sempurna, mereka tetap menjadi pujaan PUP.
2. Selalu Menempel
Cara ini juga cukup ampuh, PUW tak malu-malu mengikuti kemana pun PUP pergi dan terang-terangan menyatakan ketertarikan/kekaguman pada PUP. Meski dianggap annoying, lama-lama akan membuat PUP terbiasa atas kehadiran/perhatian PUW dan akan merasa kehilangan saat sikap PUW tak lagi sama. Ingat bagaimana kegigihan Oh Ha Ni (Playfull Kiss), Gu Mi Ho, Tae Gong Sil, dan Neil (Neil's Cantabile) dalam memperjuangkan cinta pada pujaan hati mereka? Pada akhirnya apa yang PUW lakukan, meluluhkan hati PUP.
3. Buat si Dia Cemburu
Percintaan di drama Korea seringkali melibatkan cinta segitiga dimana gadis biasa-biasa saja diperebutkan dua pria keren. Dan adegan dimana PUW sedang tertawa/bersenang-senang dengan pria kedua selalu berhasil mengganggu pikiran dan membuat PUP cemburu. PUP biasanya akan merasa tak mau kalah, tak mau kehilangan, dan merasa PUW adalah seseorang yang berharga. Kita bisa menyaksikan adegan-adegan tsb dalam Goong, BBF, King 2 Hearts, Master's Sun, Nine Tails Fox, dsb.
4. Rela Berkorban
Mau melakukan apapun bahkan menyerahkan nyawanya. Agak berlebihan memang, tapi pengorbanan tersebut dapat menggerakkan hati PUP dan membuat PUP merasa sangat terspesialkan.
5. Menghilanglah
Setelah semua yang telah PUW lakukan dan perasaan PUP tumbuh, biasanya PUW akan menghilang, entah karena penyakit, studi, mengejar mimpi, ditentang orang tua, atau perasaannya sendiri yang justru merasa tak cukup baik untuk PUP. PUP yang kehilangan akan susah move on, dan tetap menunggu sampai PUW kembali.
Ada yang mau menambahkan?

Senin, 08 Desember 2014

Waspadai Fixed Mindset, Belenggu Si Juara Kelas

Kita mungkin pernah bertanya-tanya, kemana teman-teman kita yang dulu sering menjadi juara kelas? Kemanakah mereka yang sering menjadi kebanggaan guru? Mengapa bukan mereka yang saat ini kita lihat di media massa seperti koran, majalah, atau televisi?
Mereka yang sering muncul di media massa, menjadi ilmuwan terkemuka,seniman berpengaruh, ekonom atau bahkan CEO cemerlang, ternyata banyak sebagian besar dulunya bukan siswa yang paling pintar di sekolahnya. Malcolm Gladwel (2008) dalam bukunya The Outliers menemukan bahwa para penerima hadiah Nobel ternyata bukanlah orang-orang yang berIQ tinggi seperti yang diduga banyak orang. (Alhamduillah saya sempat membacanya saat bekerja di Vanaya).
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaru, sekarang ditemukan orang-orang yang melewati sekolahnya dengan mudah lebih berpotensi menjadi seorang ‘passenger’, penumpang kehidupan. Mereka sudah puas dengan apa yang dicapai masa lalu dan percaya ‘pintu’ masa depan akan datang dengan sendirinya menemui mereka. Apa yang ditemukan oleh Carol Dweck (2009) dalam Mindset sangat mengejutkan, anak-anak yang menemukan sesuatu dengan mudah atau mendapatkan kemudahan di sekolah atau cepat mendapat nilai A di kelasnya mempunyai tendensi memiliki fixed mindset.
Fixed mindset adalah cara berpikir yang terbentuk saat seseorang mendapatkan kemudahan yang membuatnya ingin berlindung dalam kemudahan itu. Akibatnya mereka terpatri dalam pikiran mereka bahwa hidupnya akan selalu mudah. Lalu mereka duduk manis di kursi penumpang. Hidup yang sudah selesai dan kurang menghargai proses belajar yang harus dilewati dengan kerja keras dan perjuangan.
Michalko (2011) dalam buku Creative Thinkering menyebutkan fixed mindset cenderung terbentuk pada orang-orang yang memiliki karakter high self-monitors. Orang-orang seperti ini perhatian utamanya adalah ‘terlihat hebat dan cerdas’. Mereka sangat peduli terhadap bagaimana orang lain melihat (baca: mengevaluasi) diri mereka. Bagi mereka, kemampuan adalah sesuatu yang tetap, statis, bawaan lahir atau bawaan sekolah. Mereka tidak percaya kalau orang lain yang tak secerdas mereka bisa berubah atau mengalahkannya. 
Dan tentu saja orang-orang ini berada pada pusat perhatian dan lama beradaptasi pada keadaan itu, karena kecerdasan melekat pada mereka, mereka harus bisa ditunjukkan. Masalahnya orang-orang seperti ini menurut Dweck punya kecenderungan membentuk cara pandang orang lain agar mereka terlihat hebat. Mereka punya kecendrungan atribusi eksternal, dalam arti tidak mampu melakukan sesuatu, mereka akan menyalahkan orang lain dan tidak mau mengakui kesalahannya.
Mereka menjadi seperti seorang looser dan beranggapan mengakui kekurangan adalah sebuah penghinaan terhadap kehormatan dan berarti mengakui dirinya tak berharga. Dan bila suatu tidak mudah, menuntut kerja keras atau bahkan terlalu lama proses yang harus dilalui maka ini mengancam citra diri, yang berati bisa dianggap tidak cerdas, tidak berbakat. Mereka hanya ingin terlihat hebat, sekalipun sudah tidak belajar hal-hal baru lagi. Maka bila orang-orang seperti ini diburu organisasi/perusahaan/komunitas/masyarakat, maka hal ini sama seperti berburu passengers
Passenger akan menjadi beban, sama seperti obesitas yang tubuhnya dipenuhi lemak. Adapun lemak adalah suatu pilihan, akan dibuang atau dikonversi menjadi energi. Menurut Dweck, mindset adalah sebuah belief, yang berarti, meski tidak mudah, ia dapat diubah menjadi growth mindset.
Berikut adalah karakter fixed mindset:
1. memiliki beliefs “saya adalah orang cerdas, hebat. Ingin terlihat berkinerja dan pandai.” tetapi untuk menjaga citra ini, mereka tidak menyukai tantangan-tantangan baru, dan hanya berbuat apa yang dikuasai saat ini.
2. kurang tekun menghadapi rintangan dan enggan menghadapi kesulitan.
3. terbiasa mendapatkan quick dan perfect performance. Tidak gigih berjuang.
4. tidak terbiasa menghadapi umpan balik negatif. Bagi mereka kritik terhadap hasil kerja atau kapabilitasnya adalah kritik terhadap pribadi. Cenderung mengabaikan kritik negatif dan mengisolasi dari orang-orang kritis.
5. tidak dapat menerima keberhasilan orang lain, karena dianggap keberuntungan. Lebih dari itu keberhasilan orang lain adalah ancaman bagi dirinya.
Karakter growth mindset:
1. bukan didasarkan external attributions, sehingga kalau mengalami kesulian (setbacks) tidak menyalahkan orang lain atau membuat alasan, melainkan siap mengoreksi diri, mengambil inisiatif.
2. rela mengambil resiko, tidak takut gagal sebab kegagalan bukan untuk orang lain. Kegagalan adalah hak kita untuk menghadapi tantangan, dan bila terjadi selalu berpikir ada yang bisa dijadikan pelajaran.
3. mereka percaya kecerdasan dapat ditumbuhkan karena otak memiliki kesamaan dengan otot, yaitu dapat dijadikan kuat dan besar asalkan dilatih. Latihan ditujukan untuk mendapatkan kemajuan.
Lantas, bagaimana melatih mindset kita agar menjadi growth mindset?  
1. pertama hadapi dan selalu miliki tantangan. Hidup yang tak berarti adalah hidup yang tak ada tantangan sama sekali. Dengan adanya tantangan, kita akan mejadi lebih kuat.
2. bertahan dalam menghadapi rintangan dan ujian.  Jangan biarkan ujian kecil menciutkan hati. Citra diri kita tidak ditentukan oleh keberhasilan atau kejatuhan, tetapi oleh kehormatan. Kegagalan adalah kesempatan utk belajar, demikian juga untuk kemenangan.
3. usaha dan kerja keras. Di zaman serba teknologi ini, kerja keras bukanlah hal yg harus ditinggalkan atau diganti oleh kerja cerdas. Tidak ada kerja cerdas tanpa kerja keras. Kerja keras adalah mutlak untuk menggembleng ketrampilan dan keunggulan.
4. kritik orang lain adalah sumber informasi, tentu tidak semua kritik baik untuk didengar, namun jangan ambil kritik sebagai serangan thdp pribadi. Jangan pula bekerja untuk menyenangkan orang yang mengkritik. Terimalah kritik sebagai konsultasi gratis.
5. datangilah orang-orang yang sukses dan bergurulah pada mereka. Semua orang berhak untuk berhasil.
*disarikan dari salah satu bab dalam buku Self Driving (Rhenald Kasali) oleh @IvanAhda dengan sedikit penyesuaian.

Kamis, 20 November 2014

Wanita, Pahamilah Ini....

~Sebuah Ringkasan dari Salim A Fillah~
Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Keenam
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu? Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
"Tanyakan pada hatimu: Mana di antara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga."

Rabu, 17 September 2014

Commuter Line

Anda seorang pengguna harian commuter line?



Bagi Anda yang setiap harinya harus naik commuter line tentunya Anda setuju jika setiap hari Anda bertemu dengan banyak orang. Mungkin beberapa orang Anda kenali sebagai penumpang yang sebelumnya Anda gunakan. Jumlahnya mungkin hanya hitungan jari dan mereka biasanya adalah orang-orang yang membuat Anda terkesan. Namun, seringkali Anda tidak terlalu memperhatikan siapa-siapa saja yang Anda temui di dalam stasiun maupun gerbong. Anda lebih fokus pada diri sendiri dan mungkin menganggap orang-orang yang Anda temui 'hanya lewat' saja.

Apalagi di era gadget dengan internet yang semakin mudah, membuat Anda mungkin lebih suka mengobrol di dunia maya. Membuka-buka situs yang tampaknya tak terlalu Anda butuhkan. Hanya ingin membukanya saja. Siapa tahu ada yang menarik mata Anda untuk dibaca. Beberapa dari Anda mungkin sengaja memasang headset/earphone dan memasang volume cukup tinggi. Teman setia perjalanan Anda. Tak sedikit di antara Anda akan membeli masker, bukan karena sakit tapi untuk menutup mulut Anda saat tertidur. 

Beberapa dari Anda mungkin akan mencoba mengobrol dengan penumpang di sekitar atau justru Anda yang akan diajak mengobrol. Namun, apakah setelah itu ada 'follow up' dari obrolan Anda dengan mereka?

Jangankan saling tukar kartu nama, saling tahu nama saja mungkin adalah kejadian yang langka. Padahal Anda berkesempatan memperluas jaringan dengan ratusan bahkan ribuan orang dengan latar belakang yang bermacam-macam setiap harinya. 

Bagi para 'single', dengan sedikit keberanian mungkin akan bertemu dengan tambatan hati.
Bagi para 'job-seeker', dengan sedikit sopan santun mungkin akan mendapatkan pekerjaan.
Bagi para 'entrepreneur', dengan sedikit memanfaatkan peluang mungkin akan mendapatkan stakeholder.

Sebelum Anda mencoba, siapa yang tahu?


Wallahu'alam.

Senin, 21 Juli 2014

BALADA PRIA DAN -AN


Ada seorang pria yang menganggap dirinya tampan, mapan, dan pastinya jadi rebutan. 
Hingga akhirnya dia kewalahan, mencari yang paling relevan. 
Bukan lagi cinta dan iman yang jadi pertimbangan, melainkan kesesuaian.
Saking banyaknya perawan yang menawan, si pria pun makin dilanda kegalauan. 
Lalu dijajarkan semua perawan untuk diperbandingkan. 
Siapa tahu ada yang mendekati kesempurnaan.
Lamat-lamat si pria memperhatikan, menimbang-nimbang, berharap mendapat keputusan.
Lama si pria kepikiran, tak juga dapatkan jawaban. 
Sampai tahunan, si pria masih dibayangi keraguan. 
Dan para perawan satu per satu mendapat pinangan.
Ada seorang pria yang menganggap dirinya tampan, mapan, dan pastinya jadi rebutan. 
Namun di usianya yang kian matang ia justru masih sendirian.

Minggu, 20 Juli 2014

Potongan Pertama

Ini ceritaku. Seorang gadis umur 23 tahun yang tak pernah memiliki pacar. Tentu saja aku punya seseorang yang ku suka. Dia adalah pria paling tampan.

Kami seolah punya radar. Aku selalu bisa menemukannya ketika aku benar-benar menginginkannya. Aku tak benar-benar mengenalnya. Berbicara dengannya pun tidak. Aku hanya sekali melihatnya dan langsung jatuh cinta. Mungkin ini yang disebut sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, betapa konyolnya.


Apakah kau pernah merasa lututmu lemas dan hatimu bergetar? Aku selalu merasakan itu semua saat melihatnya.  

Selasa, 15 Juli 2014

Pangeran Berkuda Putih

Saat kecil saya selalu disuguhi tontonan dongeng-dongeng kerajaan macam cinderela, putri salju, sleeping beauty, beauty and the beast, dsb. Ternyata hal ini cukup mempengaruhi selera saya dalam hal ketertarikan terhadap pria. Pria-pria model pangeran yang gagah, pinter, dan tinggi selalu menjadi favorit saya. Sampai-sampai setiap ditanya dengan siapa saya ingin menikah, saya selalu menjawab "Pangeran Berkuda Putih".
Selain itu hampir disetiap telenovela, sinetron, drama Taiwan, Jepang, dan Korea yang saya tonton selalu menghadirkan peran utama pria model-model pangeran. Biasanya saya kurang tertarik untuk menonton jika pemeran utama prianya tidak cukup menarik perhatian. Kecuali jika track record sutradara atau pemain utama wanitanya saya suka dan ceritanya yang recomended.
Harapan saya akan sosok pangeran berkuda putih ini semakin menjadi-jadi setelah saya menonton sebuah FTV. Ceritanya tentang gadis tomboy yang mendambakan sosok pangeran berkuda putih. Wah saya banget tuh!

Saya sedikit lupa, sepertinya karena perjodohan keluarga maka si gadis tomboy ini harus menikah. Sontak si gadis menolak sampai kabur-kaburan. Apalagi calon mempelai pria terkesan seperti anak mamih, jauh dari tipe idamannya selama ini. Singkat cerita, kesaaran dan ketulusan si pria berhasil membuat luluh hati si gadis. Mereka pun akhirnya sepakat menikah. Pada hari pernikahan, si gadis dirias menjadi begitu cantik dan nampak anggun bak puteri kerajaan. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata mempelai pria tak kunjung datang. Si gadis dan keluarga panik. Di pikir oleh si gadis bahwa si pria sedang membalas dendam akibat ulahnya selama ini. Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Mempelai pria bak pangeran datang menunggangi kuda putih.

Bikin mupeng kan? Iya banget.
Oke, balik ke pengaruh dongeng dengan selera saya terhadap pria. Semakin bertambah buku yang saya baca, semakin bertambah orang yang saya temui, semakin bertambah cerita yang saya dengar, semakin bertambah film yang saya tonton, selera ketertarikan saya terhadap pria berubah. Saya tak lagi mendambakan pangeran berkuda putih. Mengingat saya sendiri juga bukan seorang puteri. Yang saya inginkan tak banyak. Saya hanya menginginkan teman hidup untuk berbagi dalam suka dan duka sekaligus nahkoda yang akan membimbingku mengarungi luasnya samudera kehidupan menuju keridhaanNya. Itu saja.

Sebuah pembelajaran yang saya peroleh dari apa yang saya alami dan rasakan. Menurut saya hal ini cukup penting bagi orang tua dan calon orang tua.
Yuk, lebih biasakan anak-anak kita dengan sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah dibanding dengan dengan dongeng-dongeng yang menyesatkan. Hehe

Bogor, Tempat Sejuta Kenangan

Bogor, tempat sejuta kenangan...

Masih ingat betul sewaktu pertama kali aku menginjakkan kaki di Bogor.
Waktu itu mama dan lilik yang mengantarku.
Baru sampai di Baranangsiang kami langsung disambut hujan.
Keberadaan mama benar-benar menghangatkan disela-sela kecemasan karena menginjakkan kaki berjuang di tempat baru.Beruntung aku tak benar-benar sendiri.
Ada keluarga baru, keluarga keduaku, UDHINERS 47 dan KELUARGA BESAR ETOS BOGOR.
Syukur tak henti-hentinya karena aku memiliki mereka.
  
Ah, rasanya semua itu baru kemarin sore.
Nyatanya empat tahun telah berlalu.
Bogor seolah menjadi oase ditengah gersangnya hati, menyapu segala duka dengan kesejukan.
  
Bogor, tempat sejuta kenangan...
tempat yang indah menimba ilmu,
tempat yang damai untuk menjalin ukhuwah,
tempat yang asyik membangun pengalaman,
tempat yang ... untuk menyusun mozaik hidupku menjadi lebih tertata dan bersinar.
  
Rasanya sayang harus pindah dari Bogor.
Bogor selalu membuatku rindu.
Perjalanan ke Bogor selalu membuatku bersemangat, dag dig dug seperti mau bertemu pujaan hati.
  
Di Bogor pulalah kepasrahan dan ketulusan aku pelajari.
Berkunjung ke bogor bak obat mujarab penghilang stress dan kefuturan.

Bogor benar-benar 'sesuatu'

Kondektur Ber-HighHeels

Pernah lihat kondektur metro mini pake high heels?
Aku pernah, baru saja kualami. Seorang ibu-ibu, mungkin usia 50 tahunan. Busana, hijab dan aksesoris yang ia kenakan cukup stylish. Awalnya kupikir si ibu stylish ini adalah ibu yang baik hati dan sukarela membantu si supir, mengingat si supir tak punya kondektur.

Namun, saat ada penumpang yang akan berhenti, si ibu stylish tersebut berteriak sambil mengetuk langit-langit metro mini, "BERHENTI, YAH!"
Oalah, ternyata si ibu stylish tersebut adalah benar kondektur dan istri si supir.Si supir juga nampak stylish. Rambutnya semi merah ketika butiran cahaya menyorot kepalanya.
  
Dalam cerita versiku, ini tanpa aku melakukan klarifikasi, mereka adalah OSB aka "Orang Sederhana Baru". Mereka akhirnya memutuskan untuk membeli metro mini dari harta benda yang tersisa akibat bisnis mereka yang down. Si istri dengan setia menemani suami, meski harus menjadi kondektur. Romantisnya....
  
Sebenarnya pengen mendokumentasikan pasangan tsb dalam foto, apa daya di metro mini tsb aku sempat kehilangan tab. Lagi pula kurang sopan rasanya. Cukuplah kisahnya saja yang aku bagikan.
*yang menganggu pikiranku, kenapa tuh ibu maksa banget pake high heel. Kan menyusahkan diri sendiri. Meski begitu, tetap saluut!

Menunggu di Pasar

Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara fals pengamen terdengar diiringi petikan gitar ala kadarnya
menyanyi sebisanya demi recehan
kulihat perempuan kecil berbaju merah bersusah payah menggandeng tangan ayahnya
pasangan muda-mudi tak tahu malu menampakkan mesra
serasa dunia milik berdua
gelora pasangan senja tak mau kalah
berlenggak bersama

Aku terpejam, hening
perlahan aku membuka mata
suara penyanyi goyang dari kaset bajakan mengeras
menjadi latar adegan selanjutnya
beberapa bocah lelaki terdiam, terpaku pada penyanyi goyang
seorang wanita agak gempal menawar baju sejadi-jadinya
sang abang penjual yang tak lebih galak menggeleng pelan dengan muka kecut
Di sisi lain, lelaki pedagang gantungan jilbab berlalu lalang sepi pembeli
rautnya hampir menyerah, tapi ia tak mau kalah
Di dekatku, lelaki penjual ikan bandeng jongkok memandang dagangannya yang belum berkurang
Tiba-tiba perempuan muda menghampirinya,
membuatnya kembali bergairah

Aku terpejam, hening
lama terpejam,
kali ini tak ingin lekas membuka mata
merasa dongkol
masih terpejam,
badanku terasa pegal akibat berdiri lama
masih terpejam,
aku merentangkan tangan
meregangkan sendi-sendi yang kaku
masih terpejam,
tanganku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat
aku ingin segera membuka mata,
namun benda lembut dan hangat itu sekejap berpindah
menghalangiku membuka mata
aku semakin penasaran
aku berbalik

"sudah lama menunggu?"

senyum polosnya membuat
rasa dongkolku hilang, aku justru tersenyum dan segera menggandengnya, pulang...

Minggu, 29 Desember 2013

Chemistry


Seorang teman bicara cukup kasar ketika menyaksikan idolanya menikah dengan perempuan yang 'dari kacamatanya' kurang cantik. Menurutnya perempuan itu tidak pantas bersanding dengan sang idola.

Entah bagaimana meski telah memiliki dua buah hati bersama Putri Diana, Pangeran Charles tak bisa melupakan Camila. Camila yang lebih tua dari Diana dan di mata publik tak lebih cantik dan tak lebih baik dari Diana, nyatanya tetap menjadi dambaan Charles, terlepas pada akhirnya Charles dan Camila bercerai. Lihat saja pernikahan Charles dan Camila. Senyum senantiasa mengembang di wajah Charles yang tak lagi muda.

Kakak perempuanku bercerita tentang teman SMAnya, yang menurutnya tak begitu cantik. Kulit kurang cerah, hidung tidak mancung, dan tubuh agak berisi. Teman SMAnya tersebut bekerja pada sebuah perusahaan dimana mayoritas pegawainya adalah laki-laki. Karena minimnya kaum hawa di perusahan tersebut teman SMA kakakku itu begitu populer. Saking populer, dia diperebutkan oleh tiga pria sekaligus. Tentu saja si wanita memilih yang terbaik menurut versinya. Resepsi pernikahan pun digelar. Kakakku bercerita kalau temannya itu sempat minder, lantaran ibu mertuanya jauh lebih cantik dari mempelai wanita.



Mungkin dari kita pernah terheran-heran ketika menyaksikan wanita yang menurut kita sangat cantik menikah dengan pria yang menurut kita biasa saja, atau sebaliknya. Lalu kemudian kita sepakat bahwa kecantikan/ketampanan adalah penilaian yang subjektik (relatif bagi setiap orang). Dan alasan menikah pun menjadi beraneka macam. Lalu, untuk alasan seperti apa sebenarnya kita sebaiknya menikah?

Selama hidupku, aku telah bertemu banyak orang. Tak terhitung berapa jumlahnya. Ada yang sekadar bertemu, ada yang berinteraksi hanya beberapa menit, jam, hari, dan ada yang menghabiskan bertahun-tahun waktu bersama. Aku percaya bahwa di setiap pertemuan, selalu ada alasan. Bukankah semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh-Nya?

Aku telah menonton banyak film dan drama. Dari berbagai genre dan negara. Dari beragam kisah yang tersaji, selalu ada kisah cinta dengan porsi yang berbeda-beda. Meskipun berasal genre, negara, dan jalan cerita yang berbeda, film-film dan drama-drama tersebut memberikan makna cinta yang tak jauh berbeda. Bahwa cinta adalah sesuatu yang sakral dan agung.


Tak sulit bagi seseorang untuk jatuh cinta. Namun, setelah cinta itu berkurang perpisahan pun tak terelakan. Bahkan hal ini berlaku bagi mereka yang telah menikah. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu? Begitupun seeorang hamba yang memeluk suatu agama, yang telah bersumpah bahwa ia mencintai Tuhannya pun tak luput dari penghianatan. Lalu, dimanakah letak agungnya cinta itu?

Diantara banyak film dan drama yang telah aku tonton, ada sebuah drama yang memberitahuku bahwa selain cinta kita tak boleh melupakan chemistry. Chemistry adalah ketika kita merasa 'klik' dengan seseorang, tak harus kekasih. Perasaan klik adalah misteri hati. Hanya orang yang merasakan yang tahu apakah kita merasa 'klik' atau tidak.

Karena itu, mungkin ketiga kisah di awal tulisan ini berkaitan dengan masalah chemistry. Bahwa kita tidak bisa memilih atau ditentukan oleh orang lain dengan siapa kita akan memiliki perasaan 'klik' bernama chemistry. Tentunya akan menjadi hal yang membahagiakan jika kita memilki perasaan ini dengan pasangan hidup kita. Karena bagaimana pun kita akan menghabiskan sisa umur kita dengannya. Meski begitu, aku percaya bahwa chemistry adalah sesuatu yang bisa kita bangun, asal ada niat tulus dari pelakonnya.

Rabu, 10 Juli 2013

Uje Membuat Saya Cemburu

Berita tentang wafatnya UJE memang sudah lama terdengar, tapi saya rasa gaungnya masih sampai sekarang. Saat berita tersebut pertama di kabarkan, saya menangis. Bukan karena saya adalah penggemar UJE, tapi karena saya sangat cemburu padanya. Ketika wafatnya UJE menggema di jagat maya, semua orang berkicau hal baik tentang dirinya. Doa-doa mengalir tak ada habisnya. Pada saat itu juga saya menangis dan bertanya pada diri sendiri, "jika kelak saya mati, hal mana yang lebih banyak orang sampaikan? Hal baik atau hal buruk?"
Pertanyaan ini merasuk dan seketika menjadi ketakutan tersendiri. MALU. Sangat malu jika pada akhirnya orang-orang justru mengatakan hal buruk pasca saya meninggal.
UJE dikenal sebagai ustad gaul yang mampu diterima setiap kalangan, terutama remaja. Bahkan, pemilik nama Jeffri al Bukhari ini dikagumi oleh kalangan non-Islam. Pada awal kemunculan beliau di layar kaca, sebenarnya saya kurang suka. Mungkin bertentangan dengan selera saya selama ini yang lebih menyukai ustad-ustad kalem, lembut, dan menyentuh semacam Qurai Shihab dan AA Gym. Namun, justru gaya khas UJE inilah yang unik dan lebih diterima oleh remaja khususnya. Dari pengamatan saya, mayoritas remaja justru kurang menyukai pendakwah yang kalem. Kemunculan UJE seolah oase bagi para remaja yang memang haus spiritual. Gaya UJE yang segar tanpa terkesan sok pintar lebih turut menambah alasan kenapa UJE disukai dan dikagumi anak-anak muda.

Karena Aku ya Diriku!


Namaku Efi Riana, tapi orang lebih suka memanggilku dengan ‘Teppy’. Sebuah panggilan sayang yang disematkan Ibu ini seolah menjadi identitas baru. Kadang aku berkelakar dengan teman yang memanggilku ‘Teppy’ bahwa Efi Riana iri karena Teppy lebih terkenal. Aku dilahirkan pada 27 Desember di Banyumas, sebuah kabupaten besar dengan 27 kecamatan yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Ayahku bernama Kiswanto, sedangkan Ibuku bernama Poniyem.

Meskipun kedua orangtuaku tidak menamatkan sekolah hingga SD, Alhamdulillah memiliki empat puteri yang dikenal berotak cukup encer oleh sebayanya. Ketiga saudara perempuanku berturut-turut adalah Soimah, Sulastri, dan Ani Kistiyani. Aku ada di posisi ketiga di antara Mbak Sulastri dan Ani. Kami berenam (sebelum kedua kakakku berkeluarga) menempati sebuah kediaman sederhana di Desa Tunjung No. 51 RT 03 / RW 01, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, Kode Pos 53174. Setelah kedua kakakku menikah, kami tinggal berempat. Lalu setelah aku harus melanjutkan studi, anggota keluarga yang tinggal di rumah kembali berenam. Karena sejak kematian suami kakakku yang kedua, dia beserta kedua puteranya kembali tinggal di kediaman orang tua.

Sejak kecil aku suka bertualang. Aku suka mencoba menemukan jalanku sendiri. Mungkin karena kebiasan itulah, aku tumbuh menjadi seorang yang cukup berani dan selalu berusaha untuk bisa hidup mandiri. Dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA kelas 10, aku selalu menjadi peringkat pertama di kelas. Setelah itu peringkatku berganti dari 3, 2, dan 1. Bukan karena aku malas belajar, tapi karena aku mulai mengalami disorientasi. Bukan lagi nilai yang ku kejar, tapi prestasi lain berupa penghargaan dan pengalaman hidup.

Aku cukup lama berkecimpung di dunia pramuka. Pertama kali terlibat saat SD kelas 3. Waktu itu aku mengikuti pesta siaga di kabupaten. Setelah itu berlanjut ke lomba pramuka penggalang, sampai saat SMP aku bersama tim menorehkan prestasi yang cukup luar biasa. Aku dan tim menjadi Juara I Pramuka Penggalang se-Banyumas dan Juara I Gelar Ketrampilan Pramuka se-Jateng.

Selain pramuka aku juga sangat menyukai Matematika. Sejak SD hingga SMA aku mengikuti berbagai lomba Matematika. Prestasi terbesarku aku menjadi Finalis Olimpiade Matematika se-Indonesia saat SMP. Orientasiku berubah saat masuk SMA. Aku masih menyukai Matematika dan tergabung di OSIS, tapi aku beralih dari pramuka ke Palang Merah Remaja (PMR), tepatnya menjadi wakil ketua. Sebenarnya saat SMP aku sudah bergabung di PMR, tapi pasif karena lebih fokus di pramuka dan OSIS. PMR ku pilih sebagai batu loncatan meraih cita-cita yang sempat ku genggam sejak kecil, menjadi seorang dokter. Hasilnya cukup membanggakan aku menjadi Peserta Konferensi Palang Merah Remaja I Propinsi Jawa Tengah. Lalu aku menjadi tim Penyusun/Kontributor Buku PMR dan Relawan di PMI Pusat dan aku menjadi Duta Forum Palang Merah Remaja Indonesia (Forpis) Kabupaten Banyumas dan Provinsi Jateng.

            Mimpiku menjadi dokter pupus bahkan mimpi untuk kuliah perlahan sempat ku padamkan. Selama SMA aku mendapat 2 beasiswa, sehingga tak banyak menyulitkan orang tua. Karena itu aku tak tega meminta dikuliahkan. Setelah bekerja selama hampir setahun di Bekasi, aku mendaftarkan diri di beberapa universitas. Geloraku menjadi dokter masih terasa, tapi pupus setelah mengetahui bahwa beasiswa yang ku lamar tak menyediakan jurusan kedokteran untuk universitas-universitas di daerah barat (Jakarta dan Jawa Barat). Berbekal kecintaan terhadap Matematika, aku mendaftar jurusan Statistika IPB.

Bidang non akademik yang ku jalani pun berubah, tak lagi pramuka ataupun PMR. Aku beralih ke bidang jurnalistik, sebagai reporter Koran Kampus IPB. Sebagai seorang reporter, aku berkeampatan untuk menghadiri beberapa acara dan orang-orang penting. Dan kini, aku menjabat sebagai Pimpinan Litbang. Aku juga sedang merintis CIDES Bogor dan menjadi Project Officer Rumah Kumbara. Aku juga tercatat sebagi anggota Forum lingkar Pena Bogor dan IPB Youth Journalist bidang film dokumenter. Aku sempat menjadi HRD dan Quality Product sebuah bimbingan belajar dan menjadi Ketua Divisi Pendidikan SDP Galuga, Beastudi Etos Bogor. Beberapa kepanitian Beastudi Etos Bogor ku jalani sebagai tanda terima kasih. Seringkali aku ditempatkan di divisi Desain, Dekorasi, dan Dokumentasi.

Meski menjadi dosen adalah cita-cita pilihan terakhir, aku menyukai diriku saat mengajar. Aku senang saat berbicara di depan banyak orang, memotivasi, berbagi pengalaman dan ilmu. Selain mengajar untuk bimbingan belajar, aku juga terdaftar sebagai asisten praktikum untuk dua mata kuliah yaitu Metode Penarikan Contoh dan Sosiologi Umum.

Selama kuliah, prestasi di bidang perlombaan/kejuaraan mungkin tak banyak yang bisa kuraih. Namun aku selalu bersyukur bisa meraihnya. Aku meraih Juara III Mahasiswa Prestasi Asrama TPB, Juara III Lomba Kerja Tulis Ilmiah se-Bogor, Juara I Lomba Debat Kandungan al Quran se-IPB, dan Juara III Lomba Baca Puisi SPIRIT FMIPA IPB. Selain itu, aku pernah dua kali diundang untuk tampil di sebuah acara: memotivasi dan membacakan sebuah puisi.

Aku suka mempelajari banyak hal. Aku suka membaca buku terutama buku inspiratif. Aku senang melibatkan diri di bidang politik (meski sangat tak suka politik), sejarah, dan misteri. Aku masih berambisi menjadi dokter dan sutradara. Aku suka mendengarkan musik sesuai mood. Aku suka berlari, meski hanya kulakukan seminggu sekali. Aku suka menonton film, bukan masalah siapa aktornya melainkan bagaimana suatu saat nanti aku bisa membuat film yang berkualitas. Aku sangat betah berlama-lama di depan Asusku. Bergumul dengannya membantuku menikmati hidup. Bagiku prestasi bukan hanya seberapa banyak piala, medali, atau sertifikat yang kita peroleh, melainkan seberapa besar manfaat dari keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain. Aku, kau, dan dia pasti punya pandangan sendiri mengenai hidup dan prestasi. Inilah aku, diriku, kehidupanku, pemikiranku. Karena aku ya diriku!


Kamis, 09 Mei 2013

Negeri di Ujung Tanduk



Selama tiga hari ini tak bisa tidur. Selalu terbangun di tengah dinginnya malam Kota Hujan. Aku bangun sekitar jam 2. Menikmati momen qiyamu lail yang lebih baik kulakukan. Namun, alasan sebenarnya aku bangun adalah karena penasaran. Penasaran terhadap aksi Thomas di "Negeri di Ujung Tanduk"-buah karya satu-satunya Tere Liye yang sudah aku baca. Ya, novel "Negeri di Ujung Tanduk" berhasil mencuri perhatianku setelah sekian kalinya Tere Liye menghasilkan karya. Bukannya aku baru tahu tentang Tere Liye, justru aku sudah mendengar nama dan karyanya sejak tiga tahun yang lalu. Semua orang yang pernah membaca karyanya berdecak kagum dan selalu mempropaganda yang lain bahkan tanpa diminta. Novel-novel Tere liye beberapa diangkat ke layar lebar: Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-bidadari Surga, dan yang sedang dalam proses adalah Moga Bunda di Sayang Allah. Betapa memang karya-karya Tere Liye adalah masterpiece, bukan? Sayang sampai film kedua difilmkan aku masih enggan membaca karyanya.

Meskipun aku tak pernah membaca karya-karya itu, aku tetap mengetahui jalan ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap orang yang ku kenal membicarakannya. Sinopsis dan spoiler juga lengkap beredar di dunia maya. Semakin enggan  saja. Namun tidak untuk novel "Negeri di Ujung Tanduk". Meskipun aku sudah membaca sinopsisnya di beberapa sumber, aku tetap ingin membacanya. Aku jatuh cinta seketika dengan Tokoh Thomas dan berharap suatu saat novel ini juga akan di angkat ke layar lebar. Membayangkan Joe Taslim, Vino G. Bastian, Iko Uwais, Daniel Mananta atau pria sipit siapapun akan memerankan Thomas. Meskipun aku sedikit ragu tentang mungkin tidaknya novel ini akan diangkat ke layar lebar. Pasti butuh bujet yang lumayan untuk menunjang segala ledakan, properti, dan plot. Dari pada dibuat dengan seadanya, aku menyarankan kepada siapaun untuk segera mengurungkan niatnya. Kau hanya akan merusak estetika novel itu sendiri.

Kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta dengan Thomas? Karena dia makhluk langka. Pria tampan, kaya, cerdas, dan sangat peduli dengan keluarga, pegawainya, temannya, kliennya, negaranya, bahkan musuhnya. Bagaimana mungkin? Yah, itulah Fiksi. Apapun mungkin, bergantung pemilik cerita. Ah, lebih baik kawan baca saja sendiri, daripada aku spoiler dan justru mengurangi minat kawan untuk membacanya. Kawan ketikan saja di Google "sinopsis Negeri di Ujung Tanduk". Aku jamin tak kurang dari 10 alamat akan memberitahu. Mengantarkan kawan pada Thomas. Namun, aku tetap menyarankan kawan untuk langsung mencari novelnya dan langsung membacanya. Atau mungkin dengan membaca sekuel pertamanya terlebih dulu: "Negeri Para Bedebah". Untuk novel "Negeri Para Bedebah" sendiri, aku baru berencana membacanya.

Membaca "Negeri di Ujung Tanduk" seakan membaca Indonesia. Kawan mungkin akan sakit hati, tapi mungkin juga akan semakin menyayangi negeri. Bahwa harapan selalu ada. Novel "Negeri di Ujung Tanduk" hanyalah fiksi. Mungkin saja semua salah, tapi mungkin juga Tere Liye terinspirasi dari kisah nyata. Berbeda dengan fiksi, kisah akhir Indonesia hanya Tuhan yang tahu. Tuhanlah pemilik skeneraio teragung.