Kamis, 09 Mei 2013
Negeri di Ujung Tanduk
Selama tiga hari ini tak bisa tidur. Selalu terbangun di tengah dinginnya malam Kota Hujan. Aku bangun sekitar jam 2. Menikmati momen qiyamu lail yang lebih baik kulakukan. Namun, alasan sebenarnya aku bangun adalah karena penasaran. Penasaran terhadap aksi Thomas di "Negeri di Ujung Tanduk"-buah karya satu-satunya Tere Liye yang sudah aku baca. Ya, novel "Negeri di Ujung Tanduk" berhasil mencuri perhatianku setelah sekian kalinya Tere Liye menghasilkan karya. Bukannya aku baru tahu tentang Tere Liye, justru aku sudah mendengar nama dan karyanya sejak tiga tahun yang lalu. Semua orang yang pernah membaca karyanya berdecak kagum dan selalu mempropaganda yang lain bahkan tanpa diminta. Novel-novel Tere liye beberapa diangkat ke layar lebar: Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-bidadari Surga, dan yang sedang dalam proses adalah Moga Bunda di Sayang Allah. Betapa memang karya-karya Tere Liye adalah masterpiece, bukan? Sayang sampai film kedua difilmkan aku masih enggan membaca karyanya.
Meskipun aku tak pernah membaca karya-karya itu, aku tetap mengetahui jalan ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap orang yang ku kenal membicarakannya. Sinopsis dan spoiler juga lengkap beredar di dunia maya. Semakin enggan saja. Namun tidak untuk novel "Negeri di Ujung Tanduk". Meskipun aku sudah membaca sinopsisnya di beberapa sumber, aku tetap ingin membacanya. Aku jatuh cinta seketika dengan Tokoh Thomas dan berharap suatu saat novel ini juga akan di angkat ke layar lebar. Membayangkan Joe Taslim, Vino G. Bastian, Iko Uwais, Daniel Mananta atau pria sipit siapapun akan memerankan Thomas. Meskipun aku sedikit ragu tentang mungkin tidaknya novel ini akan diangkat ke layar lebar. Pasti butuh bujet yang lumayan untuk menunjang segala ledakan, properti, dan plot. Dari pada dibuat dengan seadanya, aku menyarankan kepada siapaun untuk segera mengurungkan niatnya. Kau hanya akan merusak estetika novel itu sendiri.
Kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta dengan Thomas? Karena dia makhluk langka. Pria tampan, kaya, cerdas, dan sangat peduli dengan keluarga, pegawainya, temannya, kliennya, negaranya, bahkan musuhnya. Bagaimana mungkin? Yah, itulah Fiksi. Apapun mungkin, bergantung pemilik cerita. Ah, lebih baik kawan baca saja sendiri, daripada aku spoiler dan justru mengurangi minat kawan untuk membacanya. Kawan ketikan saja di Google "sinopsis Negeri di Ujung Tanduk". Aku jamin tak kurang dari 10 alamat akan memberitahu. Mengantarkan kawan pada Thomas. Namun, aku tetap menyarankan kawan untuk langsung mencari novelnya dan langsung membacanya. Atau mungkin dengan membaca sekuel pertamanya terlebih dulu: "Negeri Para Bedebah". Untuk novel "Negeri Para Bedebah" sendiri, aku baru berencana membacanya.
Membaca "Negeri di Ujung Tanduk" seakan membaca Indonesia. Kawan mungkin akan sakit hati, tapi mungkin juga akan semakin menyayangi negeri. Bahwa harapan selalu ada. Novel "Negeri di Ujung Tanduk" hanyalah fiksi. Mungkin saja semua salah, tapi mungkin juga Tere Liye terinspirasi dari kisah nyata. Berbeda dengan fiksi, kisah akhir Indonesia hanya Tuhan yang tahu. Tuhanlah pemilik skeneraio teragung.
Label:
curhat,
Daniel Mananta,
Iko Uwais,
Joe Taslim,
Negeri di Ujung Tanduk,
Opini,
review,
sinopsis,
Tere Liye,
Vino G. Bastian
Sabtu, 30 Maret 2013
Sukuisme Dalam Keluarga
"Sama orang Jawa saja ya, nduk!"
Saya hanya meringis, mendengarkan nasihat Ibu.
"Wah, gimana donk, Bu? Aku malah mau nikahnya sama bule."
"Weleh-weleh. Gak kasian apa kalo Ibu mau nengok cucu musti pergi jauh-jauh?"
Ibu semakin menjadi-jadi, beliau berbicara stereotip suku-suku di Indonesia, terutama non Jawa. Saya diam sesaat, mencermati penjelasan Ibu.
"Orang Sumatra tuh keras-keras. Batak apalagi. Kalau Padang, ntar kamu ditinggal pergi. Kamu tahu kan si Mawar, Melati, sama Kenanga (Nama disamarkan) yang nikah sama orang Sumatra. Suaminya pergi, gak balik lagi. Tahu-tahu udah nikah lagi di sananya."
"Inggih, Bu."
"Kalau sama Sunda, kamu musti tahan perasaan. Mereka tuh mulutnya manis. Banyak godaannya. Mereka juga biasanya manja, gak biasa kerja keras. Kurang bisa momong."
"Tapi orang Sunda sama Padang kan ganteng-ganteng, Bu. Sedep dipandang gitu."
"Yaelah, nduk. Ntar juga kalo udah tua ilang gantengnya."
"Kalau, Kalimantan gimana, Bu?"
"Aduh, jauh sekali. Masa mau nengok cucu mesti naik pesawat? Kamu tega sama Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu udah gak muda lagi lho?"
Saya menghela napas, mulai memikirkan omongan Ibu. Apa jadinya bila saya tanya pendapat Ibu mengenai orang Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, atatu bahkan Papua. Pasti langsung TIDAK.
"Pokoknya musti orang Jawa!"
Ibu berlalu dengan closing statement yang begitu status quo bagi Saya.
Ibu tentu punya alasan membatasi calon pasangan anak-anaknya. Tapi, benarkah stereotip yang Ibu yakini?
Apa itu stereotip?
Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Beberapa contoh stereotip terkenal berkenaan dengan asal etnik adalah stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.
Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997). Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak. Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.
Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Misalnya saja stereotip terhadap etnis Cina mungkin telah dimiliki oleh seorang etnis Minang, meskipun ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan etnis Cina. Stereotip juga dapat diperkuat oleh TV, film, majalah, koran, dan segala macam jenis media massa. Menurut Johnson & Johnson (2000), stereotip dilestarikan dan di kukuhkan dalam empat cara,:
Matsumoto (1996) menunjukkan bahwa kita dapat belajar untuk mengurangi stereotip yang kita miliki dengan mengakui tiga poin kunci mengenai stereotip, yaitu:
Saya pertama kali mengenal kata stereotip sewaktu belajar Dasar-dasar Komunikasi dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Dari mata kuliah ini pula saya bertemu dengan seorang dosen (keturunan Belanda) yang akhirnya berani menikahi perempuan Padang. Saya sependapat dengan beliau. Bagaimana pun kita tidak boleh men-generalisasikan sebuah suku. Mungkin stereotip-stereotip di atas berkembang berdasarkan pengalaman. Misalnya kisah si Mawar yang bersuami orang Sumatra dan ditinggal pergi. Namun, bukan berarti semua orang Sumatra akan bersikap seperti itu.
Menurut sensus yang dilakukan oleh BPS, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Informasi yang saya dapat dari Wikipedia, Suku Jawa adalah populasi terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai 41,7 % dari total penduduk Indonesia yang disensus. Suku Jawa yang dimaksud meliputi 3 kawasan utama, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Meskipun jumlahnya besar, hampir setengah penduduk Indonesia, tetap saja yang diinginkan oleh Ibu saya adalah suku Jawa di Jawa Tengah. Menanggapi hal ini, saya mengiyakan. Meskipun demikian, saya tetap menyerahkan semuanya pada Allah SWT.
referensi:
http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/mendefinisikan-prasangka.html
http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html
Saya hanya meringis, mendengarkan nasihat Ibu.
"Wah, gimana donk, Bu? Aku malah mau nikahnya sama bule."
"Weleh-weleh. Gak kasian apa kalo Ibu mau nengok cucu musti pergi jauh-jauh?"
Ibu semakin menjadi-jadi, beliau berbicara stereotip suku-suku di Indonesia, terutama non Jawa. Saya diam sesaat, mencermati penjelasan Ibu.
"Orang Sumatra tuh keras-keras. Batak apalagi. Kalau Padang, ntar kamu ditinggal pergi. Kamu tahu kan si Mawar, Melati, sama Kenanga (Nama disamarkan) yang nikah sama orang Sumatra. Suaminya pergi, gak balik lagi. Tahu-tahu udah nikah lagi di sananya."
"Inggih, Bu."
"Kalau sama Sunda, kamu musti tahan perasaan. Mereka tuh mulutnya manis. Banyak godaannya. Mereka juga biasanya manja, gak biasa kerja keras. Kurang bisa momong."
"Tapi orang Sunda sama Padang kan ganteng-ganteng, Bu. Sedep dipandang gitu."
"Yaelah, nduk. Ntar juga kalo udah tua ilang gantengnya."
"Kalau, Kalimantan gimana, Bu?"
"Aduh, jauh sekali. Masa mau nengok cucu mesti naik pesawat? Kamu tega sama Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu udah gak muda lagi lho?"
Saya menghela napas, mulai memikirkan omongan Ibu. Apa jadinya bila saya tanya pendapat Ibu mengenai orang Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, atatu bahkan Papua. Pasti langsung TIDAK.
"Pokoknya musti orang Jawa!"
Ibu berlalu dengan closing statement yang begitu status quo bagi Saya.
Ibu tentu punya alasan membatasi calon pasangan anak-anaknya. Tapi, benarkah stereotip yang Ibu yakini?
Apa itu stereotip?
Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Beberapa contoh stereotip terkenal berkenaan dengan asal etnik adalah stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.
Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997). Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak. Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.
Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Misalnya saja stereotip terhadap etnis Cina mungkin telah dimiliki oleh seorang etnis Minang, meskipun ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan etnis Cina. Stereotip juga dapat diperkuat oleh TV, film, majalah, koran, dan segala macam jenis media massa. Menurut Johnson & Johnson (2000), stereotip dilestarikan dan di kukuhkan dalam empat cara,:
- Stereotip mempengaruhi apa yang kita rasakan dan kita ingat berkenaan dengan tindakan orang-orang dari kelompok lain.
- Stereotip membentuk penyederhanaan gambaran secara berlebihan pada anggota kelompok lain. ndividu cenderung untuk begitu saja menyamakan perilaku individu-individu kelompok lain sebagi tipikal sama.
- Stereotip dapat menimbulkan pengkambinghitaman.
- Stereotip kadangkala memang memiliki derajat kebenaran yang cukup tinggi, namun sering tidak berdasar sama sekali. Mendasarkan pada stereotip bisa menyesatkan. Lagi pula stereotip biasanya muncul pada orang-orang yang tidak mengenal sungguh-sungguh etnik lain. Apabila kita menjadi akrab dengan etnis bersangkutan maka stereotip tehadap etnik itu biasanya akan menghilang.
Matsumoto (1996) menunjukkan bahwa kita dapat belajar untuk mengurangi stereotip yang kita miliki dengan mengakui tiga poin kunci mengenai stereotip, yaitu:
- Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbernya langsung. Karenanya interpretasi kita mungkin salah, didasarkan atas fakta yang keliru atau tanpa dasar fakta.
- Stereotip seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi seringkali kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain.
- Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Generalisasi mengenai sebuah kelompok mungkin memang menerangkan atau sesuai dengan banyak individu dalam kelompok tersebut.
Saya pertama kali mengenal kata stereotip sewaktu belajar Dasar-dasar Komunikasi dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Dari mata kuliah ini pula saya bertemu dengan seorang dosen (keturunan Belanda) yang akhirnya berani menikahi perempuan Padang. Saya sependapat dengan beliau. Bagaimana pun kita tidak boleh men-generalisasikan sebuah suku. Mungkin stereotip-stereotip di atas berkembang berdasarkan pengalaman. Misalnya kisah si Mawar yang bersuami orang Sumatra dan ditinggal pergi. Namun, bukan berarti semua orang Sumatra akan bersikap seperti itu.
Menurut sensus yang dilakukan oleh BPS, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Informasi yang saya dapat dari Wikipedia, Suku Jawa adalah populasi terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai 41,7 % dari total penduduk Indonesia yang disensus. Suku Jawa yang dimaksud meliputi 3 kawasan utama, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Meskipun jumlahnya besar, hampir setengah penduduk Indonesia, tetap saja yang diinginkan oleh Ibu saya adalah suku Jawa di Jawa Tengah. Menanggapi hal ini, saya mengiyakan. Meskipun demikian, saya tetap menyerahkan semuanya pada Allah SWT.
referensi:
http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/mendefinisikan-prasangka.html
http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html
Kamis, 21 Maret 2013
Berlarilah Sekuat Kau Mampu
Saya akan berbagi salah satu rutinitas saya. Sebagai penerima Beastudi Etos saya berhak dan wajib mengikuti seluruh pembinaan yang sudah disusun oleh para pendamping (semacam supervisor). Pembinaan-pembinaan tersebut disesuaikan dengan kurikulum dan visi misi Beastudi Etos. Salah satu bentuk pembinaanya adalah olahraga yang diimplementasikan dengan lari mengelilingi lapangan Gymnasium sebanyak lima kali untuk ikhwan (putera) dan tiga kali untuk akhwat (puteri). Pembinaan ini dilakukan setiap Minggu pagi. Sesekali dimajukan ke Sabtu pagi jika hari Minggu tidak memungkinkan. Tentu ada konsekuensi Etos counter jika tidak melaksanakannya.
Awalnya, saya malas melakukannya. Hal ini lebih karena saya sudah lama tidak melakukannya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menikmati pembinaan ini. Saya mulai menikmati saat saya sedang berlari.
Berlari memutar lapangan gymnasium seperti miniatur perjalanan hidup.
Untuk saat ini, saya hanya menargetkan waktu. Mungkin suatu saat akan saya tambah jumlah putarannya. Saya berusaha lari secepat mungkin. Meskipun begitu, saya yakin waktu yang saya perlukan tidak mungkin nol. Sama halnya dengan target-target yang sudah memenuhi dinding kamar saya. Tidak mungkin saya dapat meraih mereka jika saya tidak melakukan apapun, kecuali Allah lah yang menghendeki hal itu.
Setiap lari, saya selalu punya target. Saya harus berlari terus tanpa henti pada putaran pertama. Saat malas dan lelah menggoda, saya berteriak dalam hati, "JIKA SAYA MENYERAH HANYA PADA INI, BAGAIMANAN MUNGKIN SAYA BISA MENGHADAPI HAL YANG LEBIH BESAR?"
Kenapa putaran pertama?
Karena menurut saya, sebuah target harus memiliki persiapan yang matang. Awalan saya nilai cukup penting. Semacam batu loncatan untuk putaran berikutnya. Dan menurut saya, sebuah target akan lebih mudah mencapainya jika terget yang besar itu dipecah menjadi target-target yang lebih kecil. Saya percaya sebuah cita-cita yang besar dimulai sejak kita mulai memikirkannya. Dan pencapaian cita-cita yang besar itu dapat dicicil dari penyusunnya yang lebih kecil.
Misalkan saya menargetkan lolos SNMPTN Departemen Statistika, FMIPA IPB. Untuk mencapainya saya harus lebih dulu mencapai target belajar saya. Berapa buku yang harus saya baca, berapa soal yang harus saya kerjakan, dan sebagainya.
Kembali pada saat saya lari. Pada seperempat putaran terakhir, saya hanya fokus pada garis finish. Saya tak ingin mendengar mulut saya mengatakan keluhan. Lalu saya kembali berteriak dalam hati, "FOKUS PADA TARGET! TARGETKU SUDAH JELAS, AKU HANYA PERLU UNTUK MENCAPAINYA!"
Hal ini terbukti efektif, seketika energiku bertambah, tubuhku terasa ringan, dan tak lagi mendengar pikiran malas dan lelah.
Ada sebuah kisah yang saya baca dari sebuah buku, tapi saya lupa judul dan pengarangnya.
Suatu hari ada sebuah rombongan yang tersesat dalam sebuah gua. Setelah lama berjalan, rombongan tersebut tak juga menemukan jalan pulang. Rombongan tersebut merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Di tengah kelelahan, salah satu dari rombongan melihat ada secercah cahaya masuk ke dalam gua. Mereka sangat senang dan yakin itu adalah pintu keluar. Meskipun demikian cahaya tersebut sangat kecil, yang berarti jarak mereka ke sumber cahaya tersebut cukup jauh. Mereka tak mungkin menyerah, apalagi setelah mereka menemukan jalan keluar. Meskipun mereka telah menemukan jalan keluar, mereka tetap harus berjalan untuk mencapainya.
Saya percaya bahwa tidak ada hasil yang instan (kecuali kehendak Allah). Mie instan saja harus melalui beberapa proses untuk bisa disantap. Karena itu, saya mencoba berlari sekuat yang saya mampu.
Semangat pagi, Kawan!
Label:
beastudi etos,
cinta,
hikmah berlari,
ipb,
Opini,
statistika
Sabtu, 05 Januari 2013
Ketika 'Saya' Harus Selalu Benar
Opini ini saya tulis untuk Koran Kampus IPB. Berawal dari kemirisan saya ketika terpaksa menyimak perdebatan di beberapa media
sosial yang saya gunakan. Kebanyakan pendebat yang notabenenya kaum
intelektual justru tak segan menggunakan kata-kata kasar dan saling
cela. Beberapa bersembunyi dibalik nama Anonim sebagai bentuk mengecundangi diri sendiri.
Ketika sebuah isu dilempar ke publik, biasanya akan mendatangkan respon. Apalagi jika isu yang dilempar menyangkut kepentingan orang banyak, menyentil kalangan tertentu, atau bahkan menyudutkan pihak tertentu. Respon akan berkembang ke dalam suatu perdebatan. Jelas akan ada pihak yang pro dan kontra. Kedua belah pihak saling beradu argumen agar tidak dianggap salah. Pihak yang diam justru dianggap kalah dan salah, sedangkan pihak yang tak berhenti berkoar merasa memenangkan perdebatan dan menganggap pihaknya paling benar.
Saya menulis ini tentu bukan berarti bahwa saya adalah makhluk paling benar di sini. Karena kebenaran mutlak milik Sang Pencipta. Jika kebenaran hanya milik Sang Pencipta, lalu kebenaran seperti apa yang dimiliki oleh manusia?
Tidak ada manusia yang sama. Bahkan sepasang kembar identik dari ibu yang sama memiliki otak yang berbeda. Dari otak yang berbeda inilah kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Jadi sangat wajar jika terjadi perbedaan pendapat dalam menanggapi sebuah isu.
Sebagai tambahan yang tidak saya sertakan di Koran Kampus IPB adalah sebuah Ajaran Syekh Imam al Ghazali, tentang 4 tipe manusia di bumi: (1) Orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Tipe orang ini menjadi bermanfaat secara optimal bagi masyarakat dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya. (2) Orang yang tak tahu bahwa dirinya tahu. Tipe orang ini kurang percaya diri, sehingga kendati berkualitas tinggi, tapi tak termanfaatkan secara tuntas bagi kemanfaatan masyarakatnya. (3) Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Tipe orang ini mau belajar dan mampu mendengar pendapat dan nasihat orang sekitar. (4) Orang yang tak tahu bahwa dirinya tak tahu. Tipe ini merasa sok tahu, meskipun bodoh. Orang ini ibarat sawo dimakan uler: wong bodo tetapi merasa pinter. Merasa diri paling hebat, merasa diri paling benar, paling pintar, paling tahu dalam banyak hal bahkan segala hal.
Semoga kita termasuk tipe manusia pertama.
Ketika sebuah isu dilempar ke publik, biasanya akan mendatangkan respon. Apalagi jika isu yang dilempar menyangkut kepentingan orang banyak, menyentil kalangan tertentu, atau bahkan menyudutkan pihak tertentu. Respon akan berkembang ke dalam suatu perdebatan. Jelas akan ada pihak yang pro dan kontra. Kedua belah pihak saling beradu argumen agar tidak dianggap salah. Pihak yang diam justru dianggap kalah dan salah, sedangkan pihak yang tak berhenti berkoar merasa memenangkan perdebatan dan menganggap pihaknya paling benar.
Saya menulis ini tentu bukan berarti bahwa saya adalah makhluk paling benar di sini. Karena kebenaran mutlak milik Sang Pencipta. Jika kebenaran hanya milik Sang Pencipta, lalu kebenaran seperti apa yang dimiliki oleh manusia?
Tidak ada manusia yang sama. Bahkan sepasang kembar identik dari ibu yang sama memiliki otak yang berbeda. Dari otak yang berbeda inilah kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Jadi sangat wajar jika terjadi perbedaan pendapat dalam menanggapi sebuah isu.
Manusia memiliki esensi kebenaran masing-masing. Dalam
sebuah perdebatan, manusia cenderung mempertahankan kebenaran yang
dianutnya dengan seluruh argumen yang ada. Kegigihan inilah yang
terkadang membutakan nurani manusia itu sendiri dan merasa bahwa mereka
selalu benar dibanding dengan orang lain.
Kebenaran haruslah fakta. Harus ada bukti sebagai
pembenarnya. Namun apa yang terjadi jika bukti terlalu sulit dirangkai?
Disini kebenaran menjadi mahal dan kadang tabu. Pada akhirnya sesuatu
yang dianggap benar adalah jika pendapat tersebut diakui dan diyakini
oleh sekelompok orang bahwa hal itu benar, bukan individu.
Nah, bagaimana jika ada manusia yang merasa benar dan
ternyata banyak ditentang oleh manusia lain tanpa ada yang mendukungnya?
Bagi saya itu adalah kesalahan mutlak. Berbeda halnya jika pendapat itu
ditentang dan penentangnya memiliki pendukung. Berarti harus ada yang
dikoreksi di sini. Kemungkinan ada kesalahan di kedua belah pihak. Tentu
akan sulit menemukan titik terang jika masing-masing pihak masih
bersikukuh dengan esensi kebenaran masing-masing.
Saling menyampaikan esensi kebenaran masing-masing dan
menyadari bahwa manusia memiliki peluang salah agaknya harus lekas
ditanamkan. Bagaimanapun manusia cenderung mendambakan kehidupan yang
tenteram dan damai.Sebagai tambahan yang tidak saya sertakan di Koran Kampus IPB adalah sebuah Ajaran Syekh Imam al Ghazali, tentang 4 tipe manusia di bumi: (1) Orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Tipe orang ini menjadi bermanfaat secara optimal bagi masyarakat dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya. (2) Orang yang tak tahu bahwa dirinya tahu. Tipe orang ini kurang percaya diri, sehingga kendati berkualitas tinggi, tapi tak termanfaatkan secara tuntas bagi kemanfaatan masyarakatnya. (3) Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Tipe orang ini mau belajar dan mampu mendengar pendapat dan nasihat orang sekitar. (4) Orang yang tak tahu bahwa dirinya tak tahu. Tipe ini merasa sok tahu, meskipun bodoh. Orang ini ibarat sawo dimakan uler: wong bodo tetapi merasa pinter. Merasa diri paling hebat, merasa diri paling benar, paling pintar, paling tahu dalam banyak hal bahkan segala hal.
Semoga kita termasuk tipe manusia pertama.
Kamis, 13 Desember 2012
BANGKIT itu ...
BANGKIT itu SUSAH,
susah melihat orang lain susah,
senang melihat orang lain senang,
BANGKIT itu TAKUT,
takut korupsi,
takut makan yang bukan haknya,
BANGKIT itu MENCURI,
mencuri perhatian dunia dengan prestasi,
BANGKIT itu MARAH,
marah bila martabat bangsa dilecehkan,
BANGKIT itu MALU,
malu jadi benalu,
malu karna minta melulu,
BANGKIT itu TIDAK ADA,
Tidak ada kata menyerah,
Tidak ada kata putus asa
BANGKIT itu AKU,
untuk Indonesiaku
by Deddy Mizwar
Kata2 super milik bang Haji aka Deddy Mizwar ini ada versi videonya lho. Diposting oleh Rama -Ahmad Pratama Putra melalui akun facebook. Bagi yang penasaran, cekidot Keren dan kreatif.
Kamis, 29 November 2012
Gerakan 1000 rupiah
Gerakan 1000 rupiah untuk 1 anak SMA
Angka putus sekolah naik tiap jenjang seiring dengan naiknya biaya sekolah. Saat ini program pemerintah lebih fokus pada program Wajib belajar 9 tahun (SD-SMP) dan program Bidik Misi untuk kuliah. Selain itu, banyak lembaga, yayasan, atau organisasi yang menyediakan beasiswa untuk kuliah. Sementara itu, beasiswa dan bantuan pendidikan untuk anak SMA masih minim. Padahal untuk bisa melanjutkan ke jenjang kuliah, seorang siswa harus melewati jenjang SMA terlebih dahulu. SMA sebagai jembatan menuju bangku kuliah justru harus putus karena minimnya bantuan pendidikan.
Menurut penuturan Menteri Pendidikan Indonesia, Mohammad Nuh pada kompas.com (8 Mei 2012) pada tahun 2010 dana BOS hanya meng-cover 70 persen biaya pendidikan. Hasilnya sebesar 1,5 persen siswa SD drop out, dan yang tidak melanjutkan 8,87 persen dari 31 juta siswa. Untuk SMP, sebesar 1,61 persen drop out, dan 21,13 persen tidak melanjutkan. Sementara SMA, sebesar 2,86 persen drop out dan 33,11 persen tidak melanjutkan pendidikan.
Oleh karena itu, ide ini lahir berdasarkan keinginan mengurangi angka putus sekolah pada jenjang SMA.
Bagaimana ide ini bekerja?
Ide ini cukup sederhana, yang penting adalah manajemen dan komitmen setiap pelakunya.
DEADline
Last minute person, inilah gelar yang orang2 kasih buatku. Agaknya aku termasuk orang yang percaya pada "the power of kepepet". Hehe ^_^
Saking percayanya, segala hal aku kerjakan pada detik2 pengumpulan deadline. *Gak boleh dicontoh apalagi dikagumi ! :-p
Terkadang apa yang aku lakukan di menit2 terakhir hasilnya sama bagusnya jika dikerjakan dalam waktu yang lama.
Sayangnya, banyak hal yang membuatku menyesal pada akhirnya. Modal pas2an, ngerjain pas2an, dan dampaknya hasil yang pas2an pula.
Sampai suatu hari aku menyebabkan koran kampus gagal cetak. Karena aku melanggar deadline. Meskipun katanya bukan cuma aku penyebabnya, tapi aku adalah salah satu penyebabnya.
Hari2ku mulai berantakan seiring pelanggaran2 deadline yang saling bersusulan. Perasaan kepepet yang biasanya aku nikmati (berasa naik roller coaster), tak lagi membuatku ketagihan. Aku mulai stress and panic at thedisco trouble=D
Sejak dipublishnya ketikan ini, aku berharap tak ada lagi si efiriana yang last minute person! Amiiiin=D
Aku punya teman yang inspiring banget soal waktu. Dulu aku sempat heran, bahkan sangat keheran2an mengetahui salah satu teman SMAku yang sekarang kuliah pendidikan matematika di UNY, sebut saja Ummi selalu menyiapkan pakaian apa yang akan ia kenakan selama seminggu ke depan. Setiap hari Minggu, ia menggantung pakaian2 dan kerudung yang match dan mengurutkannya berdasarkan hari. Gak cuma itu, di kala istirahat, yang ia lakukan adalah mengerjakan tugas2 dan pe-er. Dia hampir selalu menjadi 3 besar siswa yang nyampe ke sekolah duluan (pas pulang juga duluan).
What amazing person is!
Saking percayanya, segala hal aku kerjakan pada detik2 pengumpulan deadline. *Gak boleh dicontoh apalagi dikagumi ! :-pTerkadang apa yang aku lakukan di menit2 terakhir hasilnya sama bagusnya jika dikerjakan dalam waktu yang lama.
Sayangnya, banyak hal yang membuatku menyesal pada akhirnya. Modal pas2an, ngerjain pas2an, dan dampaknya hasil yang pas2an pula.
Sampai suatu hari aku menyebabkan koran kampus gagal cetak. Karena aku melanggar deadline. Meskipun katanya bukan cuma aku penyebabnya, tapi aku adalah salah satu penyebabnya.
Hari2ku mulai berantakan seiring pelanggaran2 deadline yang saling bersusulan. Perasaan kepepet yang biasanya aku nikmati (berasa naik roller coaster), tak lagi membuatku ketagihan. Aku mulai stress and panic at the
Sejak dipublishnya ketikan ini, aku berharap tak ada lagi si efiriana yang last minute person! Amiiiin=D
Aku punya teman yang inspiring banget soal waktu. Dulu aku sempat heran, bahkan sangat keheran2an mengetahui salah satu teman SMAku yang sekarang kuliah pendidikan matematika di UNY, sebut saja Ummi selalu menyiapkan pakaian apa yang akan ia kenakan selama seminggu ke depan. Setiap hari Minggu, ia menggantung pakaian2 dan kerudung yang match dan mengurutkannya berdasarkan hari. Gak cuma itu, di kala istirahat, yang ia lakukan adalah mengerjakan tugas2 dan pe-er. Dia hampir selalu menjadi 3 besar siswa yang nyampe ke sekolah duluan (pas pulang juga duluan).
What amazing person is!
Langganan:
Postingan (Atom)




