Selasa, 07 Februari 2017

(Ngomongin Film) Eungyo

Menjadi tua tak menghalangimu untuk jatuh cinta.


Sungguh kasian. Begitulah kesan mendalam yang ku rasa sepanjang menonton film Eungyo atau A Muse. Bagaimana tidak, cinta hadir tapi tak bisa kau miliki.
Adalah Profesor Lee Juk-Yo (70 tahun), seorang penulis puisi nasional –setara peraih nobel, jatuh cinta pada gadis belia usia tujuh belas tahun bernama Eungyo. Apakah itu cinta atau nafsu belaka?
Jatuh cinta di usia senja dengan gadis yang menganggapmu sebagai kakeknya hanya akan menjadi skandal. Itulah yang kerap dilontarkan Seo Ji-Woo, murid sekaligus asisten Prof. Lee yang selama ini mengabdi dengan setia.
Menjadi tua mebuat Prof. Lee dicuri berkali-kali dan itu dilakukan oleh muridnya sendiri. Seo Ji-Woo tak hanya mencuri karya Prof. Lee, tapi juga cintanya pada Eungyo.
Karena film ini film festival, aku tak menyarankan kau untuk menontonnya karena adegan plus-plus hadir dengan cukup vulgar. Jadi kuceritakan saja ya. Tapi rangkumannya sudah ku tulis, apalagi yang ingin kau tahu? Bagaimana dengan alasan kenapa aku menonton film ini? Hehe.

Ini semua karena drama Goblin. Pemeran utama wanita berhasil mencuri perhatianku dan wow dia menang empat penghargaan film karena sebuah judul film. Jadilah aku penasaran, lalu aku mencari trailernya. Film yang menarik sepertinya, tapi tak langsung ku tonton. Barulah saat luang, aku menonton. Dan itu meninggalkan kesan yang mendalam: Menjadi tua dan sendiri. Dua hal paling menakutkan yang tak mau ku bayangkan. Kalau memang harus tua, aku tak mau sendiri. Aku ingin tetap bersama orang-orang terkasihku, terutama suami yang belakangan membuatku jatuh cinta.

Kembali ke film Eungyo. Bagaimana dengan si gadis Eungyo? Menurutku dia adalah gadis kesepian yang tak mendapat kedamaian hati di rumahnya. Dia seperti bermasalah dengan ibunya dan seperti kehilangan sosok ayah, tak terlalu diceritakan secara detail di film, tapi tingkahnya menunjukkan bahwa ia haus kasih sayang. Alhasil tingkahnya sedikit menggoda. Pantas saja dia menang empat penghargaan, selain aktingnya yang memang ciamik, dia sangat sangat berani (buka-bukaan), tapi sajiannya tetap indah. Puisi tentang Eungyo yang dibuat Prof. Lee mau tak mau akan turut membuatmu merasakan cinta itu, indah. Sayang, Eungyo mengira bahwa penulis puisi itu adalah Seo Ji-Woo, dia jatuh pada hati yang salah.

Mungkin dari semua tulisan di atas aku seperti menaruh kebencian yang sangat pada Seo Ji-Woo, memang! Hahaha. Seo Ji-Woo sebenarnya juga sosok kesepian. Kekagumannya yang besar pada profesornya membuatnya terjebak. Ia yang seorang engineer memaksakan dirinya mengikuti jejak idolanya. Dia harus bertanggung jawab atas hadiah Prof. Lee, novel atas namanya menjadi best seller. Kebanggaan seperti apa yang bisa kau rasakan untuk karya orang lain? Ditambah puisi yang ia curi pun menjadi pemenang award tahunan. Bertambah lagi beban yang ia rasakan. Ia sukses, kaya, dan terkenal, tapi tak damai, untuk apa? Mungkin perasaan-perasaan seperti itu yang dirasakan koruptor kaya, pegawai nyogok, artis plagiat, dan pemimpin hoax. Mungkin sih, terutama kalau nuraninya masih ada. Kalau nurani sudah hilang entah kemana, mungkin bisa tertawa dan tidur nyenyak tanpa merasa berdosa. Selama ini Seo Ji-Woo mengabdikan dirinya, tapi ternyata yang ia lakukan tak pernah tulus. Ah, benar-benar tokoh yang paling menyebalkan. Pantas saja Prof. Lee sampai merencanakan pembunuhan atasnya. *evil laugh

Bagaimana nasib ketiga tokoh di akhir film? Tragis. Jangan tonton! Wkwkwk
Sekedar informasi, usia pemeran Prof. Lee saat memainkan peran ini adalah 35 tahun. Make up artisnya memang juara. Di film ini ada saat-saat Prof. Lee membayangkan menjadi muda kembali, lalu bermain kejar-kejaran dengan pujaan hati. So sad, andai kau masih muda kek.

Setelah menonton film ini, pikiranku sampai pada kisah Rasulullah saw saat menikahi Aisyah ra. Meski tak bisa dan tak boleh disamakan atau bandingkan, beberapa riwayat mengatakan bahwa saat itu usia Aisyah masih belia sementara Rasulullah sudah lebih dari setengah abad (masih kontradiktif tentang usia sebenarnya saat Aisyah menikah) dan tak masalah. Jelas berbeda memang, hanya kepikiran saja, sepertinya masyarakat saat ini masih suka menjadikan cibiran ketika ada pria berumur menikahi gadis belia. Padahal kan kata pak ustad menikahi gadis belia bisa membuat seorang pria awet muda (belum nyari riset ilmiah, jangan mudah percaya ;p).


Bali, 7 Februari 2017

(Ngomongin Film) 12 Angry Men

Satu lagi judul film rekomendasi suami yang ku tonton hari ini. Meski suami sudah nonton, seperti biasa dia akan tetap ada di sampingku, ikutan nonton dan ya sesekali berkomentar. Baiknya, ia bisa stay cool tak bergeming kalau aku mulai nyericis bertanya-tanya yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan jawaban yang justru aku akan marah kalau sampai spoiler, wkwkwk. Kece memang! Sayang, maafkan daku....

Judul filmnya adalah 12 Angry Men. Ada yang sudah nonton?


Film hitam putih produksi tahun 1957 ini hanya punya satu setting utama: ruangan kecil dengan 1 meja, 12 kursi (ada wc sepertinya), dan tentu saja 12 pria 'marah' dengan berbagai macam latar belakang di dalamnya. Kedua belas pria ini adalah juri sebuah persidangan yang akan memutuskan bersalah tidaknya seorang anak laki-laki usia 18 tahun atas tuduhan pembunuhan terhadap ayahnya. Jika dinyatakan bersalah, anak ini akan di hukumi mati di atas kursi listrik.

Langkah awal penentuan keputusan dilakukan dengan cara voting. Sebelas juri menyatakan bahwa anak tersebut bersalah karena memang semua bukti dan saksi menyatakan demikian. Namun ada seorang juri yang ragu (di akhir film diketahui namanya Davis), apakah anak ini bersalah atau tidak. Dari sinilah film memulai intriknya. Adu argumen, analisa, emosi, 'main' detektif-detektifan, gebrak-gebrak meja terjadi di ruangan tersebut.

Durasi sekitar 100 menit dengan hanya satu setting utama tak membuatku bosan menonton film ini. Film ini sangat cerdas dengan dialog-dialog yang cerdas. Film ini mengulik hati nurani manusia untuk tidak semena-mena atau asal-asalan dalam memutuskan suatu perkara. Apalagi ini menyangkut nyawa manusia. Film ini mengajak penonton untuk belajar memahami sesuatu secara mendalam dan tidak hanya melihat dari satu sudut pandang.

Melihat hanya dari satu sudut pandang hanya akan membuatmu percaya bahwa sudutmu lah yang paling benar, tapi kau mungkin akan kehilangan kebenaran yang lain.

Bagaimana akhir film ini? Silahkan tonton sendiri ^^


Bali, 2 Februari 2017

Kamar 203 Jadi Saksi Kami

Kamar 203 jadi saksi kami berdua berdialog, bertukar pikiran, saling bully, saling debat, saling belajar, bahkan saling xxx. Tak melulu soal cinta, malah kami jarang membicarakannya, lebih suka praktik sepertinya, uups. Kami senang membahas isu-isu terkini. Pokoknya meski kebanyakan waktuku kini jadi istri rumah tangga (semoga segera naik level jadi ibu rumah tangga, amin) komitmenku, aku musti up to date dan berwawasan. Ngaha banget :p



Dialog-dialog kami menyoal agama, ekonomi, politik dan pemerintahan, keluarga, dan rencana masa depan bersama. Aku senang suamiku adalah orang yang cerdas dan berwawasan. Brainy is really sexy. Dia semakin tampan saat menampilkan kecerdasannya. Aku beberapa kali melongo tercengang mendapati bahwa ada banyak hal yang belum ku ketahui. Kadang hal yang baru ku ketahui itu menakutkan. Entahlah, sepertinya selama ini bukannya aku tak tahu, aku hanya menolak untuk tahu. Terbaca naif, ya memang, demikianlah aku. Selama ini aku hanya ingin percaya bahwa dunia dan kehidupan ini indah, putih, dan manis. Aku lebih senang menarik hal-hal baik dan orang-orang yang menurutku baik ke dalam lingkaran kehidupanku. Aku tak mau menambah masalah.

Semakin berdialog dengan suami, aku mendapati bahwa diri ini adalah orang yang sangat egois, apatis, dan hanya mementingkan kebahagiaan dan kesuksesan sendiri. Benar-benar sosok individual. Alhamdulillah Allah menjodohkanku dengan suamiku. Aku belajar banyak. Sungguh, dia adalah orang baik yang ingin ku tiru. Dan karena dialog-dialog kami begitu seksi, sayang jika tak ku bagi. Karena itu aku sengaja membuat laman khusus "Debat Kasur".

Dialog antara aku dan suami lebih banyak terjadi di atas kasur. Saat isu diajukan, awalnya tentu aku sengaja memposisikan diri sebagai oposisi. Karena itu bila kau tetangga kamar kami, dialog yang kami lakukan bisa terdengar sebagai debat. Tapi aku jamin itu bukan debat kusir, tapi debat kasur. Hanya pikiran kami yang memanas, hati tidak. Toh seringkali kami melakukannya sambil berpelukan. Aku masih membawa gaya reporterku, tak jarang aku sengaja mengintimidasi, hahaha. Maafkan aku sayang. Kau benar-benar tampan saat berargumen. Aku hanya ketagihan menyelami dalamnya pikiranmu.

Jadi, apa topik debat kasur kita malam ini?



Bali, 7 Februari 2017

Sabtu, 04 Februari 2017

"Suami, Pergilah Bersama Teman-temanmu! Bahagiakan dan Mudakan Dirimu!"

Kalau tulisan Bapaknya Jiwo yang viral itu adalah mengizinkan istrinya untuk 'cuti' dan berlibur dari rutinitas peran istri dan ibu, aku tak mau kalah: menyetujui suami menggunakan waktu off nya untuk dihabiskan bersama teman-temannya. Oiya, aku sudah punya suami lho sekarang (#bangga). Nanti-nanti ku ceritakan insyaallah. Karena sudah menyetujui begini nanti akan ada media yang nyebut aku istri idaman macam Bapaknya Jiwo yang jadi suami idaman gak ya? (Hehe, ngarep yang kebangetan ini)

Meski berat hati karena setelah menikah aku yang memonopoli waktu off suami, aku rapopo. Bukankah dengan begitu aku jadi punya waktu untuk menulis lagi setelah blog ini hiatus tak terurus bertahun-tahun? Selain itu, aku jadi bisa melakukan me time: nonton, layah-leyeh, dan ngeluyur ke tempat yang aku ingin datangi sendiri. Tentu tak lupa dengan izin dan laporan ke suami.

Aku sadar bahwa sebelum ada aku di kehidupan suami, pacar suami selain mama ya teman-temannya. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan suami. Mereka menemani, melindungi, membantu dan mendukung suami selama ini dan akan demikian seterusnya. Sementara aku, bisa dibilang adalah new comer yang tiba-tiba menyita mayoritas pikiran, hati, dan waktunya. Rasanya aku tak punya hak untuk melarang-larang suami berkegiatan bersama teman-temannya. Jadi, ku biarkan saja suami pergi. Biar tetap laki dan muda. Kalau kata suami sih biar aku tahu betapa ngangeninnya suamiku itu. Percaya diri sekali dia, tapi memang benar demikian adanya. Kan setiap ditinggal kerja juga aku sudah dan selalu kangen.

Suami gemar menceritakan teman-temannya kepadaku. Jadi aku tahu hampir semua teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan dan sejauh apa kedekatan mereka. Kalau pun aku belum bertemu langsung, minimal aku sudah pernah mendengar ceritanya atau sekedar melihat fotonya. Jadi, AMAN.



Untuk suamiku,

Sayang, pergilah bersama teman-temanmu!
Bahagiakan dan mudakan dirimu!
Tak usah kau risau tentang aku, aku rumahmu, tempat kembalimu,

Sayang, pergilah jelajahi dunia!
Bersama teman, nikmatilah senja,
Berlarilah di antara pasir dan ombak, lalu berenanglah bersama damai,

Sayang, pergilah kemana ilmu berkumpul!
Perluas wawasan dan kebijaksanaan,
Lalu segera pulang, temui aku yang sudah merinduimu.

Salam kangen dari istrimu, mmmuach!

Bali, 4 Februari 2017

Kamis, 18 Desember 2014

46 Poin Menyoal Natal oleh Ustad Salim

Belakangan ramai antara boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan natal bagi yang merayakan. Setelah hunting referensi, saya memilih apa yang disampaikan oleh ust. Salim berikut. Silahkan dicermati dan direnungkan. Kalo setuju silahkan share seluas2nya. Namun jika kurang tepat, silahkan dikoreksi.
1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi’an (kristolog Jogja -red); “Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak."
2. Wasi’an: “Kalian mengimani Musa, juga ‘Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda.”
3. Wasi’an: “Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan.”
4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82).
5. Tapi mungkin memang sudah tabiat ‘aqidah, satu sama lain tak
rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120).
6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: .
7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64).
8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6).
9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai ‘Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.
10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.
11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?
12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & ‘Isa yang tiada duanya.
13. Termuliakanlah ‘Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59).
14. Termulialah ‘Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)
15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai ‘Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam.
16. ‪#‎Natal‬ ini, kalian rayakan kelahiran ‘Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.
17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember.
18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.
19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul ‘Azmi nan teguh hati; ‘Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini.
20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan ‘Son of God’ sebagai ‘Sun of God’.
21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya ‘Isa, kawan terkasih.
22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.
23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di ‘Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para ‘ulama.
24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86)
25. Yang disepakati para ‘ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.
26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para ‘ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas ‘aqidah.
28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da’wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang ‘Ibrahim Mencari Tuhan’, tapi ‘Ibrahim Berda’wah’, demikian ditegaskan Al Qurthuby.
30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
32. Adapun Al ‘Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA (Kerajaan Saudi Arabia), dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai ‘aqidah keliru.
33. Jadi ikhtilaf ‘Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.
34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.
35. Lajnah Fatwa KSA & Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.
36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi’i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.
37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.
38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.
39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll .
40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al ‘Utsaimin pada posisi memelihara ‘izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.
41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.
42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan ‘ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini:http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html
43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari’at.
44. Sebab itu; para ‘Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA’ (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.
45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.
46. Demikian bincang Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama;)

Rabu, 17 Desember 2014

5 Cara Menaklukan Pemeran Utama Pria ala Drama Korea

Saking banyaknya drama Korea yang pernah saya tonton, saya sampai pada kesimpulan berikut.
5 Cara Menaklukan Pemeran Utama Pria (PUP) ala Drama Korea:
1. Jadilah Diri Sendiri
Hampir semua pemeran utama wanita (PUW) drama Korea adalah sosok yang apa adanya, gak jaim, dan bahkan gak malu untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari kata anggun. Cara ini gratis sekaligus menentramkan. PUW tak perlu berpura-pura menjadi orang lain. PUP menerima PUW apa adanya dan jadi lebih mengerti dan memahami PUW. Lihat saja kelakuan Geum Jan Di (BBF), Gu Mi Ho (Nine Tail Fox), Tae Gong Sil (Master's Sun), dan masih banyak lagi yang meski penampilan dan kepribadian mereka tak sempurna, mereka tetap menjadi pujaan PUP.
2. Selalu Menempel
Cara ini juga cukup ampuh, PUW tak malu-malu mengikuti kemana pun PUP pergi dan terang-terangan menyatakan ketertarikan/kekaguman pada PUP. Meski dianggap annoying, lama-lama akan membuat PUP terbiasa atas kehadiran/perhatian PUW dan akan merasa kehilangan saat sikap PUW tak lagi sama. Ingat bagaimana kegigihan Oh Ha Ni (Playfull Kiss), Gu Mi Ho, Tae Gong Sil, dan Neil (Neil's Cantabile) dalam memperjuangkan cinta pada pujaan hati mereka? Pada akhirnya apa yang PUW lakukan, meluluhkan hati PUP.
3. Buat si Dia Cemburu
Percintaan di drama Korea seringkali melibatkan cinta segitiga dimana gadis biasa-biasa saja diperebutkan dua pria keren. Dan adegan dimana PUW sedang tertawa/bersenang-senang dengan pria kedua selalu berhasil mengganggu pikiran dan membuat PUP cemburu. PUP biasanya akan merasa tak mau kalah, tak mau kehilangan, dan merasa PUW adalah seseorang yang berharga. Kita bisa menyaksikan adegan-adegan tsb dalam Goong, BBF, King 2 Hearts, Master's Sun, Nine Tails Fox, dsb.
4. Rela Berkorban
Mau melakukan apapun bahkan menyerahkan nyawanya. Agak berlebihan memang, tapi pengorbanan tersebut dapat menggerakkan hati PUP dan membuat PUP merasa sangat terspesialkan.
5. Menghilanglah
Setelah semua yang telah PUW lakukan dan perasaan PUP tumbuh, biasanya PUW akan menghilang, entah karena penyakit, studi, mengejar mimpi, ditentang orang tua, atau perasaannya sendiri yang justru merasa tak cukup baik untuk PUP. PUP yang kehilangan akan susah move on, dan tetap menunggu sampai PUW kembali.
Ada yang mau menambahkan?

Senin, 08 Desember 2014

Waspadai Fixed Mindset, Belenggu Si Juara Kelas

Kita mungkin pernah bertanya-tanya, kemana teman-teman kita yang dulu sering menjadi juara kelas? Kemanakah mereka yang sering menjadi kebanggaan guru? Mengapa bukan mereka yang saat ini kita lihat di media massa seperti koran, majalah, atau televisi?
Mereka yang sering muncul di media massa, menjadi ilmuwan terkemuka,seniman berpengaruh, ekonom atau bahkan CEO cemerlang, ternyata banyak sebagian besar dulunya bukan siswa yang paling pintar di sekolahnya. Malcolm Gladwel (2008) dalam bukunya The Outliers menemukan bahwa para penerima hadiah Nobel ternyata bukanlah orang-orang yang berIQ tinggi seperti yang diduga banyak orang. (Alhamduillah saya sempat membacanya saat bekerja di Vanaya).
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah terbaru, sekarang ditemukan orang-orang yang melewati sekolahnya dengan mudah lebih berpotensi menjadi seorang ‘passenger’, penumpang kehidupan. Mereka sudah puas dengan apa yang dicapai masa lalu dan percaya ‘pintu’ masa depan akan datang dengan sendirinya menemui mereka. Apa yang ditemukan oleh Carol Dweck (2009) dalam Mindset sangat mengejutkan, anak-anak yang menemukan sesuatu dengan mudah atau mendapatkan kemudahan di sekolah atau cepat mendapat nilai A di kelasnya mempunyai tendensi memiliki fixed mindset.
Fixed mindset adalah cara berpikir yang terbentuk saat seseorang mendapatkan kemudahan yang membuatnya ingin berlindung dalam kemudahan itu. Akibatnya mereka terpatri dalam pikiran mereka bahwa hidupnya akan selalu mudah. Lalu mereka duduk manis di kursi penumpang. Hidup yang sudah selesai dan kurang menghargai proses belajar yang harus dilewati dengan kerja keras dan perjuangan.
Michalko (2011) dalam buku Creative Thinkering menyebutkan fixed mindset cenderung terbentuk pada orang-orang yang memiliki karakter high self-monitors. Orang-orang seperti ini perhatian utamanya adalah ‘terlihat hebat dan cerdas’. Mereka sangat peduli terhadap bagaimana orang lain melihat (baca: mengevaluasi) diri mereka. Bagi mereka, kemampuan adalah sesuatu yang tetap, statis, bawaan lahir atau bawaan sekolah. Mereka tidak percaya kalau orang lain yang tak secerdas mereka bisa berubah atau mengalahkannya. 
Dan tentu saja orang-orang ini berada pada pusat perhatian dan lama beradaptasi pada keadaan itu, karena kecerdasan melekat pada mereka, mereka harus bisa ditunjukkan. Masalahnya orang-orang seperti ini menurut Dweck punya kecenderungan membentuk cara pandang orang lain agar mereka terlihat hebat. Mereka punya kecendrungan atribusi eksternal, dalam arti tidak mampu melakukan sesuatu, mereka akan menyalahkan orang lain dan tidak mau mengakui kesalahannya.
Mereka menjadi seperti seorang looser dan beranggapan mengakui kekurangan adalah sebuah penghinaan terhadap kehormatan dan berarti mengakui dirinya tak berharga. Dan bila suatu tidak mudah, menuntut kerja keras atau bahkan terlalu lama proses yang harus dilalui maka ini mengancam citra diri, yang berati bisa dianggap tidak cerdas, tidak berbakat. Mereka hanya ingin terlihat hebat, sekalipun sudah tidak belajar hal-hal baru lagi. Maka bila orang-orang seperti ini diburu organisasi/perusahaan/komunitas/masyarakat, maka hal ini sama seperti berburu passengers
Passenger akan menjadi beban, sama seperti obesitas yang tubuhnya dipenuhi lemak. Adapun lemak adalah suatu pilihan, akan dibuang atau dikonversi menjadi energi. Menurut Dweck, mindset adalah sebuah belief, yang berarti, meski tidak mudah, ia dapat diubah menjadi growth mindset.
Berikut adalah karakter fixed mindset:
1. memiliki beliefs “saya adalah orang cerdas, hebat. Ingin terlihat berkinerja dan pandai.” tetapi untuk menjaga citra ini, mereka tidak menyukai tantangan-tantangan baru, dan hanya berbuat apa yang dikuasai saat ini.
2. kurang tekun menghadapi rintangan dan enggan menghadapi kesulitan.
3. terbiasa mendapatkan quick dan perfect performance. Tidak gigih berjuang.
4. tidak terbiasa menghadapi umpan balik negatif. Bagi mereka kritik terhadap hasil kerja atau kapabilitasnya adalah kritik terhadap pribadi. Cenderung mengabaikan kritik negatif dan mengisolasi dari orang-orang kritis.
5. tidak dapat menerima keberhasilan orang lain, karena dianggap keberuntungan. Lebih dari itu keberhasilan orang lain adalah ancaman bagi dirinya.
Karakter growth mindset:
1. bukan didasarkan external attributions, sehingga kalau mengalami kesulian (setbacks) tidak menyalahkan orang lain atau membuat alasan, melainkan siap mengoreksi diri, mengambil inisiatif.
2. rela mengambil resiko, tidak takut gagal sebab kegagalan bukan untuk orang lain. Kegagalan adalah hak kita untuk menghadapi tantangan, dan bila terjadi selalu berpikir ada yang bisa dijadikan pelajaran.
3. mereka percaya kecerdasan dapat ditumbuhkan karena otak memiliki kesamaan dengan otot, yaitu dapat dijadikan kuat dan besar asalkan dilatih. Latihan ditujukan untuk mendapatkan kemajuan.
Lantas, bagaimana melatih mindset kita agar menjadi growth mindset?  
1. pertama hadapi dan selalu miliki tantangan. Hidup yang tak berarti adalah hidup yang tak ada tantangan sama sekali. Dengan adanya tantangan, kita akan mejadi lebih kuat.
2. bertahan dalam menghadapi rintangan dan ujian.  Jangan biarkan ujian kecil menciutkan hati. Citra diri kita tidak ditentukan oleh keberhasilan atau kejatuhan, tetapi oleh kehormatan. Kegagalan adalah kesempatan utk belajar, demikian juga untuk kemenangan.
3. usaha dan kerja keras. Di zaman serba teknologi ini, kerja keras bukanlah hal yg harus ditinggalkan atau diganti oleh kerja cerdas. Tidak ada kerja cerdas tanpa kerja keras. Kerja keras adalah mutlak untuk menggembleng ketrampilan dan keunggulan.
4. kritik orang lain adalah sumber informasi, tentu tidak semua kritik baik untuk didengar, namun jangan ambil kritik sebagai serangan thdp pribadi. Jangan pula bekerja untuk menyenangkan orang yang mengkritik. Terimalah kritik sebagai konsultasi gratis.
5. datangilah orang-orang yang sukses dan bergurulah pada mereka. Semua orang berhak untuk berhasil.
*disarikan dari salah satu bab dalam buku Self Driving (Rhenald Kasali) oleh @IvanAhda dengan sedikit penyesuaian.